Mataram 14 Juli 2026 – Suasana khidmat sekaligus penuh kebahagiaan menyelimuti pelaksanaan Yudisium Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Mataram yang diikuti oleh 584 mahasiswa. Momentum akademik ini bukan sekadar penetapan kelulusan, tetapi menjadi penanda dimulainya babak baru pengabdian para lulusan kepada masyarakat sebagai insan akademik yang membawa ilmu, kompetensi, dan karakter.

Kegiatan yudisium dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan UIN Mataram, Prof. Dr. H. Muhammad Saleh Ending, M.A., yang hadir mewakili Rektor UIN Mataram. Dalam sambutannya, beliau mengajak seluruh peserta yudisium untuk memaknai kelulusan sebagai awal perjalanan, bukan garis akhir dari proses belajar.

Menurutnya, gelar akademik yang diperoleh hari ini harus diwujudkan dalam bentuk kontribusi nyata kepada masyarakat. Ilmu yang dimiliki tidak boleh berhenti sebagai pencapaian pribadi, tetapi harus menjadi energi untuk membangun peradaban yang lebih baik.

“Satu obsesi terbesar yang harus kita bangun adalah kembali kepada masyarakat dengan ilmu dan kompetensi yang kita miliki,” tegas Prof. Muhammad Saleh Ending di hadapan ratusan peserta yudisium beserta para orang tua dan sivitas akademika FTK UIN Mataram.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perguruan tinggi tidak hanya bertugas melahirkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga insan yang mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Dunia kerja dan kehidupan sosial, lanjut beliau, membutuhkan lulusan yang adaptif, memiliki integritas, serta mampu memberikan manfaat melalui kompetensi yang dimiliki.

Semangat pengabdian tersebut kemudian dipertegas oleh Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram, Prof. Dr. H. Maimun, M.Pd. Dalam pesan akademiknya, Dekan mengajak seluruh lulusan untuk menjaga nama baik almamater melalui karya, akhlak, dan profesionalisme.

Beliau menegaskan bahwa alumni FTK tidak cukup hanya dibekali dengan ijazah dan kompetensi akademik. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana mereka mampu menampilkan diri sebagai pribadi yang berkarakter ketika berada di tengah masyarakat.

“Berkaryalah di tengah masyarakat sebagai alumni yang berkarakter,” pesan Dekan.

Menurut Prof. Maimun, karakter merupakan fondasi utama yang akan menentukan kualitas pengabdian seorang lulusan. Ia kemudian menjelaskan bahwa karakter dapat dibedakan menjadi dua dimensi utama, yaitu karakter moral (moral character) dan karakter kinerja (performance character).

Karakter moral mencerminkan integritas seseorang, seperti kejujuran, amanah, tanggung jawab, kepedulian, serta komitmen terhadap nilai-nilai etika. Sementara karakter kinerja berkaitan dengan profesionalisme dalam bekerja, seperti disiplin, kerja keras, kreativitas, inovasi, kemampuan berkolaborasi, serta semangat untuk terus belajar dan berkembang.

“Kedua karakter tersebut harus berjalan beriringan. Karakter moral membuat seseorang dipercaya, sedangkan karakter kinerja menjadikannya mampu memberikan hasil terbaik. Alumni FTK harus memiliki keduanya agar menjadi pribadi yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memberikan keteladanan di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Dekan juga menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada para orang tua dan keluarga peserta yudisium. Menurutnya, keberhasilan mahasiswa menyelesaikan pendidikan tinggi merupakan hasil dari perjuangan bersama yang melibatkan doa, dukungan moral, pengorbanan, serta kerja keras keluarga.

Beliau mengajak seluruh lulusan untuk tidak melupakan jasa kedua orang tua yang telah mengantarkan mereka hingga mencapai titik penting dalam perjalanan akademik.

“Kesuksesan hari ini bukan hanya milik para lulusan, tetapi juga milik orang tua yang telah membersamai setiap proses perjuangan. Karena itu, hormatilah mereka, bahagiakan mereka, dan jadikan keberhasilan ini sebagai awal untuk memberikan kebanggaan yang lebih besar,” pesannya.

Selain itu, Prof. Maimun juga mengingatkan para lulusan agar tetap menjaga komunikasi dengan almamater setelah memasuki dunia kerja maupun pengabdian di tengah masyarakat. Hubungan antara alumni dan kampus, menurutnya, merupakan modal penting dalam membangun jejaring akademik, profesional, dan sosial.

“Di mana pun Saudara bertugas nanti, tetaplah menjalin komunikasi dengan FTK UIN Mataram. Almamater akan selalu menjadi rumah untuk bertukar gagasan, berbagi pengalaman, dan bersama-sama membangun kualitas pendidikan,” ujarnya.

Rangkaian yudisium juga diperkaya dengan orasi ilmiah yang disampaikan oleh Dr. Erwin Fadli, M.Hum. Dalam paparannya, ia mengangkat tema Moderasi Beragama Berbasis Kearifan Lokal, sebuah isu yang semakin relevan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk.

Dr. Erwin menjelaskan bahwa moderasi beragama tidak cukup dipahami sebagai sikap pasif yang hanya menghindari konflik atau ekstremisme. Yang dibutuhkan saat ini adalah moderasi beragama aktif, yaitu sikap yang mendorong setiap individu untuk terlibat secara nyata dalam membangun harmoni sosial, memperkuat toleransi, dan merawat kebersamaan di tengah keberagaman.

Menurutnya, nilai-nilai kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat Indonesia menjadi modal sosial yang sangat kuat dalam membangun moderasi beragama. Tradisi gotong royong, musyawarah, saling menghormati, dan budaya hidup berdampingan merupakan warisan yang harus terus dirawat oleh generasi muda, termasuk para lulusan perguruan tinggi.

Ia berharap para alumni FTK UIN Mataram mampu menjadi agen moderasi beragama di lingkungan masing-masing, baik sebagai guru, pendidik, tokoh masyarakat, maupun profesional di berbagai bidang. Kehadiran mereka diharapkan mampu menghadirkan wajah Islam yang ramah, inklusif, dan membawa rahmat bagi seluruh alam.

Pelaksanaan yudisium tahun ini menjadi lebih dari sekadar seremoni akademik. Di balik toga dan senyum bahagia para lulusan, tersimpan harapan besar agar mereka mampu menjadi generasi yang menggabungkan kecerdasan intelektual, kematangan spiritual, dan kepedulian sosial.

Bagi FTK UIN Mataram, meluluskan 584 mahasiswa bukan hanya soal menambah jumlah alumni, tetapi juga mengirimkan duta-duta pendidikan yang akan mengabdi di berbagai daerah dengan membawa nilai-nilai keislaman, keilmuan, dan kebangsaan.

Yudisium pun ditutup dengan optimisme bahwa setiap lulusan akan menjadi bagian dari solusi atas berbagai tantangan zaman. Dengan ilmu yang telah diperoleh, kompetensi yang terus diasah, karakter yang kokoh, serta semangat moderasi beragama yang aktif, para alumni FTK UIN Mataram diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan, masyarakat, bangsa, dan negara.

Sebab pada akhirnya, makna kelulusan bukan hanya tentang memperoleh gelar, melainkan tentang kesiapan untuk kembali kepada masyarakat, mengabdikan ilmu dengan penuh tanggung jawab, serta menghadirkan manfaat seluas-luasnya bagi sesama.[]