
MATARAM: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram terus memperkuat transformasi akademik melalui Diskusi Dosen Interdisipliner bertajuk “Rekonstruksi Pendekatan Studi Islam FTK UIN Mataram”, Senin, 6 Juli 2026.
Kegiatan menghadirkan Prof. H. Abdurrahman Mas’ud, M.A., Ph.D., Guru Besar UIN Walisongo Semarang, sebagai narasumber utama dan dibuka langsung oleh Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag.
Dalam sambutannya, Rektor menegaskan bahwa transformasi perguruan tinggi Islam tidak cukup hanya ditandai dengan pembangunan fisik, digitalisasi, maupun peningkatan akreditasi. Transformasi harus menyentuh paradigma keilmuan dan budaya akademik.
“Perguruan tinggi Islam harus mampu menghadirkan keilmuan yang relevan dengan perkembangan zaman. FTK memiliki tanggung jawab besar karena dari fakultas inilah lahir para pendidik yang akan membentuk generasi masa depan,” tegas Rektor.
Menurut Prof. Masnun Tahir, rekonstruksi studi Islam menjadi bagian dari ikhtiar UIN Mataram dalam memperkuat integrasi antara keislaman, pendidikan, sains, teknologi, dan kemanusiaan.
Sementara itu, Prof. Abdurrahman Mas’ud menyoroti masih kuatnya dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum dalam sistem pendidikan. Pemisahan tersebut dinilai telah melahirkan segregasi epistemologis yang menyebabkan ilmu agama kerap dipahami secara tekstual, sementara ilmu modern berkembang tanpa dialog yang kuat dengan nilai spiritual dan etika.
Karena itu, ia mendorong pengembangan pendekatan multidisipliner, interdisipliner, dan transdisipliner dalam studi Islam. Melalui pendekatan tersebut, teks-teks keislaman dapat berdialog secara kreatif dengan ilmu sosial, pendidikan, sains, teknologi, dan berbagai persoalan kemanusiaan kontemporer.
“Studi Islam tidak boleh berhenti pada kajian normatif. Ia harus hidup, membumi, dan mampu memberikan jawaban terhadap persoalan masyarakat,” ungkapnya.
Menurutnya, perubahan sosial dan perkembangan teknologi telah menghadirkan berbagai tantangan baru, mulai dari etika kecerdasan buatan, radikalisme keagamaan, inklusivitas, hak asasi manusia, hingga krisis ekologi. Studi Islam harus memiliki perangkat metodologis yang memadai untuk membaca dan merespons berbagai perubahan tersebut.
Diskusi Dosen Interdisipliner ini menjadi momentum bagi FTK UIN Mataram untuk memperkuat arah pengembangan akademik dan kurikulum yang lebih integratif.
Melalui rekonstruksi pendekatan studi Islam, FTK UIN Mataram meneguhkan komitmennya melahirkan pendidik Muslim yang memiliki kedalaman spiritual, keluasan intelektual, kepekaan sosial, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman.


