TANJONG MALIM — Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram kembali memperluas jejaring pendidikan internasionalnya dengan memberangkatkan sepuluh mahasiswa ke Tanjong Malim, Perak, Malaysia, untuk mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional hasil kerja sama dengan Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI).

Program yang berlangsung hampir sebulan ini dimulai sejak rombongan bertolak dari Indonesia pada 1 Juli 2026 dan menetap di asrama kawasan Taman Bahtera, Tanjong Malim. Selama masa pengabdian, kesepuluh mahasiswa menjalankan tiga peran sekaligus: duta budaya, calon pendidik, sekaligus pembelajar yang mengamati langsung praktik pendidikan di negara tetangga.

Kegiatan diawali dengan masa adaptasi dan penyusunan rencana kerja tim pada hari pertama kedatangan. Sehari berselang, mahasiswa mengunjungi kampus UPSI, salah satu universitas pendidikan tertua dan paling terpandang di Malaysia, dilanjutkan dengan tur perpustakaan dan museum sejarah kampus serta sesi penyambutan resmi bersama sivitas akademika setempat. Pada kesempatan itu, UIN Mataram menyerahkan cendera mata sebagai simbol persahabatan dan komitmen memperkuat kerja sama pendidikan antara kedua institusi.

Penempatan di Dua Lembaga Pendidikan

Kesepuluh mahasiswa kemudian dibagi ke dua lokasi pengabdian. Lima orang ditempatkan di Sekolah Rendah Seri Budiman (SRSB), sementara lima lainnya bertugas di Institut Pendidikan Tahfiz dan Turath Islam Al-Furqan. Kendati karakter kedua lembaga berbeda, satu sekolah dasar umum, satu lagi lembaga pendidikan tahfiz dan turath Islam, keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni mencetak generasi muda melalui pendidikan berkualitas.

Sebelum benar-benar mengajar, para mahasiswa lebih dulu mengamati budaya sekolah, metode pembelajaran, karakter siswa, hingga cara guru mengelola kelas. Dari proses observasi ini mereka mendapat gambaran baru tentang bagaimana seorang pendidik membangun komunikasi dan menanamkan karakter kepada peserta didik. Di sela kegiatan, mahasiswa juga memperkenalkan budaya Indonesia kepada lingkungan barunya, antara lain dengan mengunjungi Pasar Malam UPSI, berinteraksi dengan warga lokal, dan mencicipi kuliner khas Malaysia.

Terlibat Aktif dalam Kegiatan Sekolah

Memasuki pekan pertama pengabdian, intensitas kegiatan mahasiswa meningkat. Di SRSB, mereka menyambut siswa setiap pagi, mengikuti Welcoming Ceremony, memperkenalkan UIN Mataram dan program KKN Internasional, serta membantu guru dalam berbagai kegiatan sekolah, mulai dari mengawasi ujian, mendampingi pembelajaran Bahasa Melayu, membantu pelaksanaan Tasmi’ hafalan Al-Qur’an, mendistribusikan makanan untuk siswa, hingga ikut serta dalam rapat persiapan acara Fun Run bersama guru, siswa, orang tua, dan alumni sekolah.

Sementara itu, mahasiswa yang bertugas di Institut Al-Furqan menjalankan rangkaian kegiatan pendidikan keagamaan bersama para guru dan santri setempat. Keterlibatan mereka memperkuat hubungan akademik sekaligus membuka ruang pertukaran pengalaman dalam penyelenggaraan pendidikan Islam antara Indonesia dan Malaysia.

Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi para mahasiswa adalah menyusun Rancangan Pengajaran Harian (RPH) bersama guru-guru Malaysia. Proses ini membuka wawasan mereka mengenai perbedaan kurikulum kedua negara, sekaligus menegaskan bahwa kualitas seorang guru dibangun dari perencanaan pembelajaran yang matang, kemampuan beradaptasi, dan kepekaan terhadap kebutuhan peserta didik.

Memperkuat Jembatan Pendidikan Dua Negara

Bagi UIN Mataram, program KKN Internasional di Tanjong Malim ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan memperluas kerja sama akademik dengan perguruan tinggi di kawasan Asia Tenggara. Melalui kolaborasi dengan UPSI, mahasiswa tidak hanya dilatih mengajar, tetapi juga diajak menghargai keberagaman budaya, membangun komunikasi lintas negara, dan bekerja dalam lingkungan internasional, bekal penting bagi calon pendidik yang berwawasan global namun tetap berpijak pada identitas budaya sendiri.

Di tengah perbedaan bahasa, budaya, dan sistem pendidikan, semangat untuk belajar, berbagi, dan mengabdi menjadi bahasa yang dipahami bersama. Program ini menegaskan bahwa pengabdian masyarakat tidak lagi dibatasi oleh wilayah geografis, melainkan tumbuh menjadi ruang belajar bersama yang turut mempererat hubungan Indonesia dan Malaysia demi masa depan pendidikan yang lebih baik.@humas