
MATARAM: Suasana penguatan akademik Tim ACQUIN Universitas Islam Negeri Mataram berlangsung hangat dan penuh nuansa intelektual. Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Mataram, Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan, M.A., menyematkan gelar “Tokoh Nasional Pesantren Hibrida”kepadaProf. H. Abdurrahman Mas’ud, M.A., Ph.D., Selasa, 7 Juli 2026.
Penyematan tersebut disampaikan di sela-sela kegiatan penguatan akademik bertajuk “Strategi Integrasi Ilmu Menuju Standar Mutu Akademik Internasional” yang diikuti Tim ACQUIN dan sivitas akademika UIN Mataram.
Prof. Fahrurrozi Dahlan menilai Prof. Abdurrahman Mas’ud merupakan salah satu figur akademik nasional yang memiliki kemampuan menghubungkan khazanah pesantren dengan tradisi akademik modern dan perkembangan pendidikan global.
“Prof. Abdurrahman Mas’ud adalah Tokoh Nasional Pesantren Hibrida. Beliau mampu mempertemukan tradisi pesantren yang kuat dengan tradisi akademik modern dan pengalaman intelektual global. Ini merupakan kekayaan intelektual yang sangat penting bagi pengembangan pendidikan Islam hari ini,” ungkap Prof. Fahrurrozi.
Menurutnya, istilah pesantren hibrida menggambarkan kemampuan seorang intelektual untuk menjaga akar tradisi keislaman sekaligus terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan perubahan global.
“Pesantren hibrida bukan kehilangan identitas. Justru memiliki akar tradisi yang kuat, tetapi cabang keilmuannya tumbuh dan menjangkau dunia. Figur seperti Prof. Abdurrahman menunjukkan bahwa tradisi pesantren dapat berdialog secara produktif dengan akademik internasional,” tambahnya.
Penyematan gelar tersebut juga menjadi bentuk apresiasi terhadap perjalanan intelektual dan kontribusi Prof. Abdurrahman Mas’ud dalam pengembangan pendidikan Islam. Pengalaman akademik serta gagasannya mengenai integrasi ilmu dinilai memberikan perspektif penting bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam dalam menghadapi tantangan pendidikan global.

Dalam penguatan akademiknya, Prof. Abdurrahman Mas’ud menegaskan bahwa perguruan tinggi Islam harus memiliki keberanian membangun identitas dan distingsi akademik. Integrasi ilmu tidak boleh berhenti sebagai konsep, tetapi harus hadir dalam kurikulum, pembelajaran, penelitian, dan kontribusi universitas kepada masyarakat.
“Integrasi ilmu harus hidup dalam seluruh proses akademik. Ruh akademik hari ini ditentukan oleh kolaborasi seluruh sivitas akademika. Semua harus bergerak bersama. Ini merupakan jihad akbar akademik untuk membangun mutu,” tegas Prof. Abdurrahman.
Ketua LPM UIN Mataram berharap gagasan dan pengalaman Prof. Abdurrahman Mas’ud dapat menjadi energi baru bagi Tim ACQUIN dan seluruh sivitas akademika UIN Mataram dalam memperkuat budaya mutu serta integrasi ilmu.
“UIN Mataram memiliki akar tradisi keislaman dan lokalitas yang sangat kuat. Tugas kita adalah mentransformasikan kekuatan tersebut menjadi keunggulan akademik yang dapat dibaca dan diakui dunia,” tegas Prof. Fahrurrozi.
Momen penyematan gelar “Tokoh Nasional Pesantren Hibrida” tersebut menjadi bagian menarik dalam rangkaian penguatan akademik Tim ACQUIN UIN Mataram. Tidak hanya menjadi bentuk apresiasi terhadap seorang intelektual nasional, tetapi juga menghadirkan pesan penting bahwa tradisi pesantren, integrasi ilmu, dan standar akademik internasional dapat tumbuh dalam satu ekosistem keilmuan yang saling menguatkan.


