MATARAM: Melemahnya budaya membaca menjadi salah satu ancaman serius bagi perkembangan pendidikan Islam dan tradisi intelektual di perguruan tinggi. Hal tersebut ditegaskan Prof. H. Abdurrahman Mas’ud, M.A., Ph.D., saat menjadi narasumber dalam Diskusi Dosen Interdisipliner FTK UIN Mataram, Senin, 6 Juli 2026.

Dalam kegiatan bertajuk “Rekonstruksi Pendekatan Studi Islam FTK UIN Mataram” tersebut, Guru Besar UIN Walisongo Semarang itu menyebut melemahnya semangat membaca sebagai “Greater Danger: The Absence of Reading Spirit.”

Menurutnya, tantangan pendidikan Islam saat ini bukan semata-mata persoalan keterbatasan fasilitas dan teknologi. Persoalan yang lebih mendasar adalah semakin melemahnya budaya membaca, menulis, berdiskusi, dan meneliti di lingkungan akademik.

Semangat iqra’ sebagai pesan pertama Al-Qur’an seharusnya menjadi fondasi utama dalam membangun peradaban ilmu. Ketika budaya membaca melemah, kemampuan berpikir kritis, tradisi penelitian, dan inovasi juga akan mengalami kemunduran.

Prof. Abdurrahman Mas’ud juga memotret realitas mahasiswa di perguruan tinggi yang masih menghadapi tantangan dalam membangun kemandirian belajar. Mahasiswa cenderung menunggu informasi dari dosen, belum terbiasa mengembangkan argumentasi secara sistematis, serta masih memiliki keterbatasan dalam menyampaikan gagasan melalui lisan maupun tulisan.

Tradisi bertanya juga dinilai belum tumbuh secara optimal. Dalam beberapa lingkungan pendidikan, pertanyaan kritis bahkan masih dipersepsikan sebagai bentuk ketidaksopanan atau su’ul adab.

Padahal, menurutnya, budaya akademik yang sehat harus dibangun melalui dialog, argumentasi, keterbukaan berpikir, dan pencarian kebenaran secara ilmiah.

Persoalan tersebut, lanjutnya, tidak hanya menjadi tanggung jawab mahasiswa. Dosen juga dituntut melakukan transformasi pembelajaran. Model teacher-centered yang menempatkan dosen sebagai pusat pengetahuan perlu bergerak menuju pembelajaran yang memberikan ruang lebih luas kepada mahasiswa untuk berpikir, berdialog, dan menemukan pengetahuan.

Salah satu langkah strategis yang ditawarkan adalah menghidupkan kembali perpustakaan sebagai “the heart of learning center” atau jantung pusat pembelajaran.

Perpustakaan tidak boleh sekadar menjadi ruang penyimpanan buku, tetapi harus berkembang menjadi ruang membaca, berdiskusi, meneliti, dan melahirkan gagasan baru.

Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag., yang membuka kegiatan tersebut, menyambut positif penguatan budaya akademik di lingkungan kampus. Menurutnya, transformasi UIN Mataram harus berjalan seiring dengan tumbuhnya tradisi intelektual yang kuat di kalangan dosen dan mahasiswa.

Diskusi tersebut menjadi refleksi penting bagi FTK UIN Mataram untuk terus menghidupkan budaya iqra’, memperkuat tradisi membaca dan menulis, serta membangun ruang akademik yang kritis, terbuka, dan produktif.