MATARAM: Universitas Islam Negeri Mataram bersama Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar The 9th International Colloquium on Interdisciplinary Islamic Studies (ICIIS) and The 6th Graduate International Conference (GIC) 2026 di Hotel Jayakarta Lombok, Selasa (19/05/2026). Forum akademik internasional tersebut mengangkat tema “Divine Balance Change in a Digital Age: Islamic Studies Response to Climate Change and Technological Hegemony.”

Pembukaan konferensi internasional ini dihadiri oleh Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Phil. Asep Saepudin Jahar, M.A., Rektor Universitas Islam Negeri Mataram, Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag., Wakil Rektor I UIN Mataram Prof. Dr. H. Adi Fadli, M.Ag., Wakil Rektor II UIN Mataram Prof. Dr. H. M. Saleh, M.A., Wakil Rektor III UIN Mataram Prof. Dr. H. Jumarim, M.A., Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta Prof. Dr. H. Zulkifli, M.A., Direktur Pascasarjana UIN Mataram Prof. Dr. H. Subhan Abdullah Acim, M.A., Wakil Direktur Pascasarjana UIN Mataram Prof. Dr. H. Saparudin, M.Ag., Ketua LPM UIN Mataram Prof. Dr. H. Fahrurrozi, M.A., para guru besar dari UIN Jakarta dan UIN Mataram, para ketua program studi dan sekretaris program studi di lingkungan Pascasarjana UIN Mataram, serta para discussant dan presenter yang mengikuti kegiatan secara luring maupun daring.

Kegiatan yang berlangsung pada 18–21 Mei 2026 itu dilaksanakan secara luring dan daring melalui Zoom Meeting, serta diikuti lebih dari 175 pemakalah dari dalam dan luar negeri. Kolokium internasional ini menjadi ruang strategis bagi akademisi, peneliti, dan pemangku kebijakan untuk mendiskusikan respons keilmuan Islam terhadap tantangan global, khususnya perubahan iklim, perkembangan teknologi digital, dan hegemoni kecerdasan buatan.

Ketua ICIIS ke-9 Tahun 2026, Prof. Dr. JM. Muslimin, M.A., dalam laporan kepanitiaannya menyampaikan bahwa konferensi internasional ini merupakan bentuk komitmen akademik perguruan tinggi Islam dalam memperkuat tradisi keilmuan yang interdisipliner, kolaboratif, dan responsif terhadap dinamika global. Menurutnya, tema “Divine Balance Change in a Digital Age” dipilih sebagai refleksi atas meningkatnya tantangan kemanusiaan di tengah disrupsi teknologi dan krisis lingkungan yang semakin kompleks.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan telah membawa perubahan besar dalam kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, dan keagamaan. Namun di sisi lain, perkembangan tersebut juga menghadirkan ancaman baru berupa dehumanisasi, ketimpangan sosial, kerusakan ekologis, serta dominasi teknologi yang berpotensi menggeser nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan.

Karena itu, lanjutnya, studi Islam perlu tampil tidak hanya sebagai disiplin normatif, tetapi juga sebagai kekuatan intelektual yang mampu menghadirkan paradigma etik, ekologis, dan humanistik dalam menjawab problem global. Ia berharap forum ICIIS dan GIC 2026 dapat melahirkan rekomendasi akademik, riset kolaboratif, serta inovasi keilmuan yang memberi kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.

Sementara itu, Rektor Universitas Islam Negeri Mataram, Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag., menegaskan pentingnya kontribusi nyata dunia akademik dalam merespons perubahan zaman. Menurutnya, studi Islam tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab ekologis dan perkembangan teknologi global.

“Forum akademik tidak boleh hanya menjadi ajang menulis atau berdiskusi. Harus ada penemuan dan inovasi nyata yang mampu menjawab tantangan zaman,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa keseimbangan Ilahi (divine balance) harus dimaknai sebagai tanggung jawab kolektif umat manusia dalam menjaga harmoni antara agama, lingkungan, teknologi, dan kemanusiaan.

Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Phil. Asep Saepudin Jahar, M.A., menyampaikan bahwa reinterpretasi hubungan agama dan sains menjadi kebutuhan mendesak di era modern. Menurutnya, umat beragama kini menghadapi berbagai isu strategis, mulai dari perkembangan kecerdasan buatan, kesehatan global, ekonomi digital, hingga krisis lingkungan.

“Kolokium ini diharapkan tidak sekadar menghasilkan publikasi akademik, tetapi juga solusi konkret bagi masyarakat,” ujarnya.

Kegiatan ini juga menghadirkan keynote speaker, yakni Wakil Wali Kota Mataram, TGH. Mujiburrahman, S.H., M.Pd., yang menyampaikan materi bertema “Divine Balance in a Digital Age: Islamic Studies Response to Climate Change and Technological Hegemony.”

Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa era digital telah membawa perubahan mendasar terhadap pola hidup masyarakat, termasuk cara manusia memahami agama, lingkungan, dan relasi sosial. Menurutnya, kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan dimensi spiritual, etika, dan tanggung jawab ekologis manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Ia menjelaskan bahwa perubahan iklim merupakan persoalan global yang tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan, tetapi juga memengaruhi ketahanan pangan, ekonomi masyarakat, kesehatan, hingga stabilitas sosial. Karena itu, pendekatan keagamaan dinilai memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga keseimbangan alam.

TGH. Mujiburrahman juga menyoroti hegemoni teknologi digital yang semakin kuat dalam membentuk pola pikir, budaya, dan perilaku masyarakat modern. Menurutnya, kecerdasan buatan dan arus informasi digital harus diarahkan untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, keadilan sosial, moderasi beragama, dan keberlanjutan lingkungan, bukan justru memperlebar krisis moral dan ketimpangan sosial.

Forum internasional tersebut juga menghadirkan sejumlah pembicara terkemuka dari berbagai negara dan institusi akademik dunia, di antaranya Prof. Arun Rasiah yang membahas penguatan studi Islam interdisipliner dalam merespons transformasi sosial global, serta Mohammad Aboomar yang menyoroti tantangan etika dan spiritualitas Islam di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan.

Selain itu hadir pula Prof. Dr. Arndt Graf yang memaparkan dinamika studi Islam kontemporer dalam perspektif global dan hubungan antara agama, demokrasi, serta masyarakat digital. Sementara Prof. Munir mengangkat pentingnya kolaborasi dunia Islam dalam membangun paradigma pendidikan dan peradaban yang berorientasi pada keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan.

Adapun Dr. Nabila membahas penguatan moderasi beragama dan literasi digital di tengah arus globalisasi teknologi. Direktur Pascasarjana UIN Mataram, Prof. Dr. H. Subhan Abdullah Acim, M.A., turut menyampaikan pentingnya integrasi nilai-nilai keislaman, ilmu pengetahuan, dan inovasi teknologi dalam pengembangan pendidikan tinggi Islam di era digital.

Diskusi ilmiah dalam konferensi internasional tersebut dipandu oleh moderator Prof. Arif Zamhari, Ph.D. dan Prof. Dr. Nikmatullah, M.A.

Rangkaian konferensi turut melibatkan para discussant dan akademisi nasional maupun internasional, antara lain Prof. Dr. Hj. Helmiati, M.Ag., Prof. Dr. H. Agus Maimun, M.Pd, Prof. Dr. Zulkifli, MA., Prof. Dr. Yusuf Rahman, MA., Prof. Dr. Rusli S.Ag., M.Soc.Sc., Dr. Fuad Jabali, MA., Hamdani, MA, Ph.D., Dr. Rizqi Handayani, MA., Prof. Dr. JM. Muslimin, MA., Prof. Dr. H. Saparudin, M.Ag., Prof. Arif Zamhari, MA., Hamdani, MA, Ph.D., Mohammad Adnan, P.hD., Yeni Ratna Yuningsih S.Ag., M.A., rof. Dr. Rusli S.Ag., M.Soc.Sc. Ph.D., Ummi Kultsum M.Pd., Ph.D., Prof. Dr. H. Fahurrozi, M.A., Dr. Maswani, MA. serta sejumlah pakar lainnya dari berbagai perguruan tinggi.

Selain pelaksanaan konferensi, kegiatan ini juga ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara Pascasarjana Universitas Islam Negeri Mataram dan Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Kerja sama tersebut meliputi penguatan riset kolaboratif, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta pengembangan publikasi ilmiah internasional.

Kolaborasi strategis ini diharapkan semakin memperkuat jejaring perguruan tinggi Islam di Indonesia dalam membangun tradisi akademik yang inovatif, kolaboratif, dan responsif terhadap isu-isu global. Melalui forum ICIIS dan GIC 2026, studi Islam didorong untuk tidak hanya bersifat normatif dan tekstual, tetapi juga transformatif dalam menghadirkan solusi bagi keberlanjutan peradaban dan pembangunan global berkelanjutan.