MATARAM: Dalam momentum peringatan Hari Santri Nasional dan Dies Natalis ke-59, Universitas Islam Negeri Mataram kembali mempertegas komitmennya terhadap tafsir ecoteologi melalui penguatan budaya ramah lingkungan (green campus). Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan tersebut, Rektor UIN Mataram Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag. membentuk Tim Penilai Lomba Green Campus yang diikuti oleh seluruh fakultas, lembaga, dan unit di lingkungan kampus. Sabtu, 18/10/2025

Rektor menegaskan bahwa tafsir ecoteologi di UIN Mataram tidak berhenti pada tataran konseptual, tetapi diwujudkan dalam gerakan nyata yang menumbuhkan kesadaran ekologis sebagai bentuk ibadah dan amanah spiritual. “Gerakan green campus adalah bentuk tafsir ecoteologi yang hidup, bagaimana manusia bertanggung jawab terhadap bumi sebagai khalifah. Kita ingin nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin benar-benar membumi dalam perilaku akademik dan sosial sivitas UIN Mataram,” ujar Prof. Masnun Tahir.
Ketua SDGs Center UIN Mataram, Dewi Sartika Nasution, menuturkan bahwa penilaian Green Campus merupakan bagian penting dari strategi implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) di kampus. “Ini adalah tahun kedua kami menyelenggarakan lomba Green Campus. Kegiatan ini menjadi sarana untuk mengukur sejauh mana kesadaran dan partisipasi sivitas akademika dalam menciptakan kampus yang hijau, sehat, dan berkelanjutan,” jelasnya.
Dewi menambahkan bahwa dalam rangkaian kegiatan tahun ini, SDGs Center UIN Mataram juga menggelar ajang audisi dan seleksi Duta SDGs yang diikuti oleh mahasiswa dari berbagai fakultas. Program ini bertujuan melahirkan generasi muda kampus yang visioner, kritis, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap isu-isu keberlanjutan. “Duta SDGs diharapkan menjadi role model sekaligus motor penggerak perubahan dalam mewujudkan kampus berkelanjutan yang selaras dengan nilai-nilai Islam dan prinsip pembangunan hijau,” tambahnya.

Selain itu, UIN Mataram secara konsisten mengembangkan berbagai program pendukung green campus, mulai dari pelatihan daur ulang sampah bagi mahasiswa, pengelolaan bank sampah kampus, penataan ruang terbuka hijau, hingga penerapan prinsip efisiensi energi dan pengurangan plastik sekali pakai. Semua upaya ini menunjukkan bahwa UIN Mataram berkomitmen kuat menjadikan kampus sebagai laboratorium hidup (living laboratory) bagi praktik ekoteologis yang berkelanjutan.
Melalui lomba Green Campus dan audisi Duta SDGs, UIN Mataram ingin menanamkan kesadaran ekologis sebagai bagian dari spiritualitas keislaman dan tanggung jawab sosial. Gerakan ini menjadi refleksi nyata bahwa mencintai alam bukan sekadar tugas moral, tetapi juga bentuk ibadah dan pengabdian kepada Sang Pencipta. Adita@Humas


