MATARAM: Universitas Islam Negeri Mataram terus memantapkan langkah sebagai kampus hijau berkelanjutan melalui penguatan implementasi ecoteologi. Komitmen tersebut ditegaskan Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag., dengan rencana pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Ecoteologi sebagai instrumen strategis untuk mengawal amanah lingkungan dalam mewujudkan Green Campus berbasis nilai-nilai keislaman. Sabtu, 10/01/2026

Rektor menegaskan bahwa ecoteologi merupakan paradigma penting yang menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian integral dari tanggung jawab keagamaan. Sejalan dengan pencanangan Gerakan Ecoteologi secara nasional oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, UIN Mataram berkomitmen menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam kebijakan dan aksi nyata di lingkungan kampus.
“Menjaga lingkungan adalah amanah keagamaan. Karena itu, ecoteologi harus hadir sebagai gerakan kolektif yang terencana, sistematis, dan berkelanjutan, bukan sekadar jargon,” tegas Rektor dalam agenda evaluasi perkembangan Green Campus UIN Mataram bersama jajaran pimpinan universitas.
Dalam implementasinya, UIN Mataram telah mengarusutamakan nilai-nilai ecoteologi melalui berbagai lini. Melalui Tim SDGs, nilai ecoteologi telah diintegrasikan ke dalam kurikulum pada sejumlah program studi guna menumbuhkan kesadaran ekologis sivitas akademika. Pendekatan ini diarahkan untuk membentuk lulusan yang memiliki keseimbangan antara kecakapan intelektual, kesalehan spiritual, dan tanggung jawab ekologis.
Pada bidang riset dan pengabdian kepada masyarakat, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Mataram secara aktif mendorong pengembangan penelitian tematik ecoteologi serta pengabdian masyarakat berbasis lingkungan. Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa juga diarahkan untuk mengedepankan nilai-nilai ecoteologi dalam praktik pemberdayaan sosial dan pelestarian lingkungan di tengah masyarakat.
Berdasarkan hasil pemantauan Rektor bersama jajaran pimpinan, implementasi ecoteologi di UIN Mataram menunjukkan perkembangan yang positif. Namun demikian, diperlukan penguatan koordinasi dan pengelolaan agar gerakan ini berjalan lebih terintegrasi dan berkelanjutan. Oleh karena itu, pembentukan Satgas Ecoteologi dipandang sebagai langkah strategis untuk menyinergikan kebijakan, program, serta aksi ecoteologi lintas unit di lingkungan UIN Mataram.
Ke depan, Satgas Ecoteologi diharapkan menjadi motor penggerak dalam memperkuat budaya Green Campus UIN Mataram, sekaligus menegaskan peran perguruan tinggi keagamaan sebagai garda depan dalam merespons krisis ekologis global melalui pendekatan iman, ilmu pengetahuan, dan aksi nyata. Adita@Humas-ppid


