MATARAM: Penutupan Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) Nasional ke-8 dan MQK Internasional pertama yang digelar di Lapangan Merdeka, Wajo, Sulawesi Selatan, Senin malam (6/10/2025), berlangsung khidmat dan penuh haru. Ribuan santri dan masyarakat dari berbagai daerah turut memadati lapangan untuk mengikuti rangkaian acara penutupan yang dihadiri langsung oleh Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., serta sejumlah tokoh nasional dan daerah.

Dalam sambutan penutupannya, Menteri Agama mengajak seluruh santri, peserta, dan masyarakat untuk memanjatkan doa bagi korban musibah ambruknya gedung Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo, yang terjadi pada 29 September 2025. Doa yang dilantunkan Menag menggetarkan ribuan hadirin yang turut menundukkan kepala dengan penuh keharuan, mendoakan para santri yang wafat dalam keadaan husnul khatimah.

“Kepada malaikat-malaikat kecil, terimalah di sisi-Mu ya Allah. Anak-anak ini berangkat dengan niat suci untuk menegakkan kalimat-Mu, Engkau jemput dalam keadaan salat dan dalam ridha-Mu,” tutur Menag penuh haru.

Menag juga menyampaikan apresiasi mendalam atas suksesnya penyelenggaraan MQK Nasional dan Internasional 2025, serta berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Wajo dan seluruh panitia yang telah bekerja keras menyukseskan ajang keilmuan santri berskala internasional ini.

Menanggapi hal tersebut, Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag., menyampaikan apresiasi tinggi dan ucapan selamat atas suksesnya pelaksanaan MQK Nasional ke-8 dan MQK Internasional pertama. Menurutnya, kegiatan ini menjadi ikon intelektual santri yang membanggakan sekaligus bukti nyata kontribusi Kementerian Agama dalam memperkuat tradisi keilmuan Islam di level nasional dan global.

“Kami dari UIN Mataram mengucapkan selamat dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Kementerian Agama, khususnya kepada Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, atas keberhasilan menyelenggarakan MQK Internasional yang sarat makna. Ajang ini bukan hanya mempertemukan para santri terbaik dari berbagai negara, tetapi juga memperkuat jaringan keilmuan Islam dan semangat keberagaman yang menjadi wajah peradaban Islam Indonesia,” ungkap Prof. Masnun.

Rektor UIN Mataram juga menyampaikan doa dan rasa duka mendalam atas musibah yang menimpa para santri di Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo. Ia berharap agar keluarga korban diberi ketabahan dan kekuatan, serta agar peristiwa tersebut menjadi pelajaran berharga bagi dunia pendidikan pesantren dalam memperhatikan keselamatan dan kelayakan fasilitas belajar.

“Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas musibah yang menimpa santri-santri kita di Pesantren Al-Khoziny. Semoga para korban mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran serta kekuatan iman,” tambahnya.

Lebih lanjut, Prof. Masnun berharap semangat intelektual dan spiritual para santri yang tampil di MQK Internasional dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan civitas akademika di seluruh PTKIN. Baginya, santri adalah penjaga nilai, penerus tradisi keilmuan, dan pembangun moral bangsa menuju Indonesia yang berperadaban mulia.

Dengan penuh optimisme, Rektor UIN Mataram menegaskan bahwa kesuksesan MQK Internasional 2025 menjadi bukti nyata bahwa dunia pesantren dan pendidikan Islam Indonesia telah siap berkiprah di panggung global, membawa nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin untuk peradaban dunia. Adita@Humas