MATARAM: Komitmen dalam menghadirkan layanan publik yang humanis sekaligus berdampak akademik terus ditunjukkan oleh Universitas Islam Negeri Mataram. Rektor UIN Mataram, Prof DR. TGH. Masnun Tahir, secara berkelanjutan memonitor perkembangan program Masjid Ramah Pemudik yang tersebar di sejumlah titik strategis jalur mudik di wilayah pulau seribu masjid. Senin, 23/03/2026

Pemantauan dilakukan melalui koordinasi intensif bersama tim Humas yang turun langsung ke lapangan mendampingi tim khidmat masjid ramah pemudik. Tim ini melibatkan unsur mahasiswa, alumni, serta unit kegiatan mahasiswa seperti Menwa dan Formakipsi yang berperan aktif dalam memastikan pelayanan bagi para pemudik berjalan optimal.

Berdasarkan hasil pemantauan dan diskusi dengan para takmir masjid, arus pemudik baik yang menuju arah timur maupun barat terpantau ramai namun tetap lancar. Dalam situasi tersebut, masjid menjadi salah satu titik persinggahan yang paling diminati. Selain untuk melaksanakan salat berjamaah, para pemudik juga memanfaatkan masjid sebagai tempat beristirahat, melepas penat, hingga sekadar menikmati kopi dan makan siang dalam suasana yang aman dan nyaman.

Rektor menilai bahwa program Masjid Ramah Pemudik yang digagas oleh Menteri Agama, Prof. DR. KH. Nasaruddin Umar, telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya pengguna jalan yang membutuhkan ruang singgah selama perjalanan panjang arus mudik dan balik Lebaran.

“Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang pelayanan sosial yang mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat. Program ini menghadirkan kenyamanan fisik sekaligus ketenangan spiritual bagi para pemudik,” ungkapnya.

Menariknya, dari praktik pelayanan mudik ini lahir refleksi akademik yang mendorong inovasi dalam dunia pendidikan tinggi. Rektor yang juga Ketua Forum Rektor PTKIN menegaskan bahwa model Masjid Ramah Pemudik menjadi inspirasi awal dalam merancang pendekatan baru pengabdian masyarakat melalui Kuliah Kerja Partisipatif (KKP) berbasis masjid.

Menurutnya, pendekatan KKP berbasis masjid akan memperkuat keterlibatan mahasiswa dalam kehidupan sosial-keagamaan masyarakat secara lebih kontekstual dan aplikatif. Program ini direncanakan mulai diimplementasikan sebagai bagian dari transformasi kurikulum yang adaptif terhadap kebutuhan zaman.

“Ini bukan sekadar program layanan musiman, tetapi dapat dikembangkan menjadi model pembelajaran berbasis pengabdian yang berkelanjutan. Masjid menjadi pusat aktivitas sosial, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat,” tegasnya.

Dengan sinergi antara perguruan tinggi, masyarakat, dan lembaga keagamaan, UIN Mataram berhasil menghadirkan praktik baik yang tidak hanya menyentuh aspek pelayanan publik, tetapi juga melahirkan inovasi akademik. Program ini diharapkan menjadi role model nasional dalam mengintegrasikan nilai keislaman, pelayanan sosial, dan pengembangan keilmuan dalam satu gerakan yang utuh dan berkelanjutan. Adita@Humas-ppid