MATARAM: Komitmen menghadirkan mudik yang aman, nyaman, dan bernilai spiritual pada momentum Lebaran 1447 H/2026 M kembali diperkuat melalui kolaborasi nasional lintas sektor. Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, secara resmi melepas rombongan mudik gratis sebagai bagian dari ikhtiar pelayanan publik berbasis keagamaan yang inklusif dan humanis. Kamis, 19/03/2026

Sejalan dengan gerakan tersebut, Universitas Islam Negeri Mataram mengambil peran strategis dengan menyiagakan program Masjid Ramah Pemudik di berbagai titik jalur utama di wilayah Nusa Tenggara Barat yang dikenal sebagai Pulau Seribu Masjid. Program ini dirancang sebagai solusi alternatif rest area berbasis masjid yang tidak hanya menyediakan fasilitas fisik, tetapi juga menghadirkan kenyamanan spiritual bagi para pemudik.
Rektor UIN Mataram, Prof. DR. TGH. Masnun Tahir, menegaskan bahwa optimalisasi fungsi masjid sebagai ruang singgah merupakan bentuk nyata transformasi peran institusi keagamaan dalam menjawab dinamika mobilitas masyarakat modern. Ia bahkan turun langsung memantau sejumlah masjid yang disiapkan sebagai titik layanan pemudik di sepanjang jalur strategis lintas Bali–NTB–NTT.
“Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pelayanan umat yang inklusif. Ketika pemudik merasakan kenyamanan, keamanan, dan ketenangan di masjid, maka di situlah nilai-nilai Islam hadir secara konkret dalam kehidupan sosial,” ujarnya.
Program Masjid Ramah Pemudik diinisiasi melalui pendekatan kolaboratif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, pengurus masjid, komunitas masyarakat, hingga organisasi keagamaan. Sinergi ini memperkuat model komunikasi publik berbasis pentahelix yang menempatkan masjid sebagai episentrum pelayanan sosial-keagamaan yang adaptif.
Salah satu implementasi program tersebut terlihat pada penyaluran bantuan logistik berupa air minum dan dukungan konsumsi di sejumlah masjid yang berada di jalur padat pemudik. Kehadiran fasilitas ini memberikan nilai tambah bagi para pelintas, tidak hanya sebagai tempat beristirahat, tetapi juga sebagai ruang refleksi spiritual di tengah perjalanan panjang.
Lebih lanjut, Rektor menekankan pentingnya keberlanjutan program ini sebagai model praktik baik yang dapat direplikasi secara nasional. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi menjadi kunci dalam menghadirkan layanan publik yang responsif, inovatif, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat luas.
Inisiatif yang selaras dengan gagasan Menteri Agama ini mempertegas bahwa masjid memiliki potensi besar sebagai pusat transformasi sosial di era modern. Tidak hanya sebagai simbol religiusitas, tetapi juga sebagai ruang hidup yang mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat, termasuk dalam momentum strategis seperti arus mudik Lebaran.
Dengan hadirnya program Masjid Ramah Pemudik, UIN Mataram meneguhkan perannya sebagai agen perubahan yang tidak hanya bergerak di ranah akademik, tetapi juga aktif dalam praksis sosial yang berdampak langsung bagi masyarakat. Adita@Humas-PPID


