Mataram: Ada momen-momen dalam hidup yang tak hanya patut dikenang, tapi juga layak jadi pelajaran. Hari ini, UIN Mataram menjadi saksi sejarah ketika tiga tokoh hebat melangkah ke garis tertinggi dalam dunia akademik – bukan hanya karena mereka cerdas, tapi karena mereka membawa misi, nurani, dan semangat perubahan. Di hadapan civitas akademika dan undangan kehormatan, ketiganya dikukuhkan sebagai Guru Besar tetap, mengukir tonggak penting yang tak sekadar soal akademis, tetapi juga tentang harapan dan inspirasi. Rabu, 23/04/2025

Prof. Dr. H. M. Zaidi, M.Ag., melalui orasi ilmiahnya tentang Optimalisasi Wakaf Uang dalam Mewujudkan Keuangan Sosial Syariah, menghadirkan sebuah narasi ekonomi Islam yang penuh makna. Ia menegaskan bahwa wakaf uang bukan hanya instrumen ibadah, tapi juga strategi konkret membangun keadilan ekonomi umat. Di tengah ketimpangan sosial dan krisis moral ekonomi, wakaf menjadi solusi yang berpijak pada nilai-nilai spiritual dan transformatif.
Sementara itu, Prof. Dr. Baiq El Badriati, M.E.I. mengajak audiens menyelami dunia perempuan penenun Lombok melalui tema orasinya Perempuan dan Penguatan Ekonomi Lokal Berbasis Budaya. Dengan riset yang kuat dan pengalaman lapangan yang menyentuh, ia membuktikan bahwa benang-benang Songket tak hanya melahirkan karya seni, tetapi juga menjadi jalan kemandirian dan kehormatan perempuan lokal. Ini adalah bukti bahwa tradisi, jika dirawat dengan ilmu, bisa menjelma jadi kekuatan ekonomi dan kultural yang membanggakan.
Satu lagi suara yang menyentuh datang dari Prof. Dr. Muhammad Harfin Zuhdi, M.A. melalui pidato ilmiahnya Relasi Manusia dan Alam dalam Perspektif Islam. Ia menyampaikan pesan kuat bahwa krisis lingkungan hari ini adalah krisis kesadaran. Dalam Islam, menjaga alam bukanlah pilihan, melainkan amanah ilahiah. Ia mengajak semua pihak – akademisi, pemimpin, dan generasi muda – untuk membumikan nilai-nilai ekoteologi Islam sebagai fondasi kebijakan dan gaya hidup masa depan.

Di luar akademik, momen pengukuhan ini memancarkan sinyal kuat: bahwa ilmu yang sejati adalah ilmu yang menyentuh hati, membumi, dan membawa manfaat bagi sesama. “Ini bukan sekadar seremoni gelar,” ujar seorang mahasiswa dengan mata berbinar, “tapi puncak dari dedikasi panjang yang mengajarkan bahwa untuk menjadi besar, kita harus bersedia melayani.” Di balik toga dan panggung resmi, tersembunyi perjalanan penuh pengorbanan, kerja senyap, dan cinta yang mendalam pada umat dan bangsa.
Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag., menyampaikan dalam sambutannya, “Ilmu yang tidak menginspirasi perubahan adalah ilmu yang belum selesai. Hari ini, kita semua belajar – bahwa menjadi besar bukan soal gelar, tapi soal tanggung jawab kepada umat, bangsa, dan semesta.” Ia juga menegaskan bahwa UIN Mataram akan terus menjadi rumah bagi keilmuan yang membebaskan, memanusiakan, dan menyejahterakan.
Dari Mataram, sebuah pesan dikirim ke seluruh penjuru negeri: bahwa dari Timur, cahaya bisa bersinar untuk dunia. Karena ilmu, jika ditanam dengan cinta dan ditebar dengan harapan, akan tumbuh menjadi peradaban. Mari terus melangkah bersama, membangun Indonesia dengan ilmu yang hidup – ilmu yang bukan hanya dipelajari, tetapi juga dialami, dirasakan, dan diamalkan. Adita@Humas


