Mataram: Di tengah ribuan peserta muda yang bersaing dalam jalur UM-PTKIN Tahun 2025, hadir sosok yang tak biasa namun sangat menginspirasi: Suhartini, seorang ibu rumah tangga berusia 41 tahun, mengikuti tes mahasiswa baru jalur UMPTKIN dan memilih Program Studi Tadris Bahasa Inggris di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram. Kamis, 19/06/2025

Aktif sebagai instruktur senam, pengrajin tas dari bahan tali kur, serta guru pengganti di sekolah PAUD, Suhartini membuktikan bahwa semangat belajar tidak mengenal batas usia maupun peran sosial. Meski kesibukan sehari-harinya cukup padat, ia tetap bertekad untuk kembali ke bangku kuliah demi satu hal: mewujudkan impian yang lama tertunda.
“Dulu saya harus menunda kuliah karena kendala ekonomi. Tapi saya percaya, mimpi itu tidak mati, hanya menunggu waktu yang tepat untuk diperjuangkan. Dan waktu itu adalah sekarang,” ungkap Suhartini dengan penuh semangat.
Tidak hanya sebagai bentuk pengembangan diri, keputusannya untuk kuliah juga dilandasi keinginan kuat untuk memberi inspirasi. “Saya ingin menunjukkan bahwa kita bisa belajar dan berprestasi di usia berapa pun. Saya juga ingin menjadi penyemangat bagi lingkungan sekitar agar jangan pernah menyerah untuk terus belajar,” tambahnya.

Yang lebih membanggakan, Suhartini kuliah bersamaan dengan putrinya, Suci Amelia Hawari, yang juga diterima di Prodi Bahasa Inggris Universitas Mataram (UNRAM). Momen ini menjadi simbol bahwa pendidikan adalah perjalanan lintas generasi dan bahwa peran seorang ibu bukan hanya mengantar anak-anaknya belajar, tetapi juga ikut menapaki jalan ilmu bersama mereka.
Kisah Suhartini memberi napas segar di tengah dinamika pendidikan tinggi Indonesia. Ia menjadi bukti nyata bahwa UIN Mataram adalah kampus inklusif yang membuka ruang bagi siapa saja yang berani bermimpi dan siap bersaing.
“Saya tidak ingin sekadar kuliah. Saya ingin berkontribusi, belajar serius, dan menunjukkan bahwa usia 41 adalah awal yang berani, bukan akhir dari segalanya,” tuturnya mantap. Adita@Humas


