Mataram: Hari kelima pelaksanaan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) 2025 berbasis Sistem Seleksi Elektronik (SSE) di UIN Mataram diwarnai dengan kisah inspiratif dari salah satu peserta berkebutuhan khusus. Di antara ribuan peserta yang tersebar dalam 19 sesi ujian, terdapat Tirta Alvino Firdaus, seorang penyandang disabilitas tuna grahita ringan, yang dengan semangat tinggi mengikuti ujian pada sesi ke-15. Minggu, 15/06/2025

Tirta merupakan alumni SMAN 7 Mataram yang bercita-cita melanjutkan pendidikan tinggi di UIN Mataram. Ia memilih tiga program studi yang menurutnya penuh tantangan dan sangat menjanjikan, yakni Ekonomi Islam, Pariwisata Syariah, dan Manajemen Dakwah. Ia mengikuti ujian di Gedung TIPD lantai tiga, dengan dukungan penuh dari panitia dan keluarga.
Kisah Tirta menjadi potret nyata semangat inklusivitas dan tekad yang luar biasa. Meski menghadapi keterbatasan, ia tidak menyerah dalam mengejar pendidikan dan cita-citanya. “Saya ingin kuliah di UIN Mataram karena banyak jurusan menarik dan bermanfaat untuk masa depan,” ujar Tirta dengan yakin.
Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag., yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) PTKIN 2025, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas semangat peserta seperti Tirta. “Kami sangat menghargai semangat luar biasa dari peserta difabel. Tirta adalah inspirasi bagi kita semua. Di UIN Mataram, kami berkomitmen membangun kampus yang ramah, terbuka, dan inklusif bagi seluruh anak bangsa,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa UM-PTKIN bukan sekadar seleksi akademik, tetapi juga ruang untuk memperjuangkan keadilan akses pendidikan. “Tugas kami bukan hanya menyelenggarakan ujian, tapi memastikan bahwa setiap orang, apapun latar belakangnya, punya kesempatan yang setara untuk menempuh pendidikan tinggi yang bermutu,” tambah Prof. Masnun.
Pelaksanaan SSE UM-PTKIN di UIN Mataram sendiri melibatkan 4.172 peserta dalam 19 sesi, dengan 3 sesi per hari. Setiap sesi berlangsung selama 3 jam, terdiri dari 120 menit pengerjaan soal, 10 menit video tutorial aplikasi, serta 10 menit sambutan video dari Menteri Agama RI, yang diputar sebelum ujian dimulai. Setiap sesi melibatkan 220 peserta, tersebar di 11 ruangan, masing-masing dengan kapasitas 20 orang.
Sementara itu, Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Suyitno, M.Ag., menekankan pentingnya penerapan prinsip inklusif dan humanis dalam pelaksanaan seleksi nasional ini. “UM-PTKIN harus menjadi ruang yang ramah untuk semua. Kami ingin memastikan bahwa tak ada yang tertinggal dalam kemajuan pendidikan Islam di Indonesia,” tegasnya.
Di hari kelima ini, UIN Mataram tak hanya mencatat keberhasilan teknis pelaksanaan ujian, tetapi juga menorehkan catatan moral yang kuat: bahwa pendidikan tinggi adalah hak setiap warga, tanpa kecuali. Dan hari ini, semangat Tirta adalah pengingat bagi kita semua bahwa keterbatasan fisik tidak pernah membatasi harapan dan usaha untuk meraih masa depan yang lebih cerah. Adita@Humas


