Mataram, 09 April 2026  – Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) LP2M UIN Mataram kembali menggelar diskusi rutin sebagai ruang refleksi akademik yang responsif terhadap isu-isu kontemporer. Pada edisi terbaru ini, diskusi mengangkat tema “Gender dan Isu Lingkungan”, yang semakin relevan di tengah meningkatnya krisis ekologis global maupun lokal.

Kegiatan ini menghadirkan suasana dialogis yang dinamis, mempertemukan akademisi, peneliti, dan mahasiswa untuk bersama-sama mengkaji keterkaitan erat antara persoalan gender dan lingkungan dalam konteks sosial yang beragam. Diskusi ini menegaskan bahwa dampak krisis lingkungan tidak bersifat netral, melainkan memiliki dimensi gender yang signifikan.

Kegiatan diskusi rutin ini di awali dengan laporan panitia yang disampaikan Sekertaris LP2M UIN Mataram, Prof. Dr. Akhmad Asyari, beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini  merupakan bagian dari komitmen PSGA LP2M UIN Mataram dalam menghadirkan ruang dialog akademik yang responsif terhadap isu-isu strategis dan kontekstual. Pada kesempatan kali ini. Diskusi ini bertujuan untuk memperluas wawasan, memperkuat perspektif gender dalam melihat persoalan lingkungan, serta mendorong lahirnya gagasan kritis dan solutif yang relevan dengan kondisi masyarakat, khususnya di Nusa Tenggara Barat. Adapun peserta kegiatan ini terdiri dari dosen, peneliti, mahasiswa, serta pemerhati isu gender dan lingkungan. Kami berharap melalui forum ini akan terbangun diskusi yang produktif, interaktif, dan memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan keilmuan maupun praktik sosial.

Kegiatan dilanjutkan dengan sambutan Rektor UIN Mataram yang disampaikan oleh Wakil Rektor 1 Prof. Dr. H. Adi Fadli, M.Ag, dalam arahan dan sambutannya beliau menekankan, sebagai institusi pendidikan tinggi keagamaan, UIN Mataram memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk terus mendorong kajian-kajian interdisipliner yang mampu menjawab tantangan zaman. PSGA sebagai bagian dari LP2M diharapkan terus menjadi garda terdepan dalam mengarusutamakan perspektif gender, tidak hanya dalam ranah akademik, tetapi juga dalam kehidupan sosial Masyarakat, seraya memberikan pesan kepada Kapus PSGA UIN Mataram Dr. Mira Mareta, MA dan semua Kapus untuk terus  bekerja dan menjaga tradisi akademik ini dengan baik, kemudian  beliau membuka acara secara resmi.

Hadir sebagai pembicara dalam kegiatan ini, Keynote Speech, Prof. Dr. H. Yusuf, M.Pd (Akademisi UIN Mataram), Dr. Nining Purwati, M.Pd (Akademi UIN Mataram),  Ibu Nuryanti Dewi, SE (LBH APIK NTB), hadir sebagai pemantik jalannya diskusi, bapak Apipuddin, S.H.I.,LL.M (Kapus Moderasi Beragama LP2M UIN Mataram)

Dalam pemaparan materi, narasumber menyoroti bagaimana perempuan dan kelompok rentan lainnya seringkali menjadi pihak yang paling terdampak oleh kerusakan lingkungan, mulai dari keterbatasan akses terhadap sumber daya alam hingga meningkatnya beban kerja domestik akibat perubahan iklim. Di sisi lain, perempuan juga memiliki peran strategis sebagai agen perubahan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Diskusi ini juga menggali perspektif kontekstual yang lebih dekat dengan realitas masyarakat lokal di Nusa Tenggara Barat. Berbagai contoh kasus diangkat untuk menunjukkan bagaimana kearifan lokal, peran komunitas, serta kebijakan berbasis gender dapat menjadi solusi dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks.

Di akhir sesi, Ketua PSGA LP2M UIN Mataram menyampaikan bahwa diskusi rutin ini diharapkan tidak hanya menjadi forum akademik semata, tetapi juga mampu mendorong lahirnya gagasan kritis dan rekomendasi kebijakan yang inklusif serta berkeadilan gender.

Peserta diskusi terlihat antusias mengikuti jalannya kegiatan, yang diwarnai dengan sesi tanya jawab interaktif dan pertukaran ide yang konstruktif. Diskusi ini menjadi bukti bahwa pendekatan interdisipliner sangat dibutuhkan dalam memahami dan merespons isu-isu strategis seperti gender dan lingkungan. Melalui kegiatan ini, PSGA LP2M UIN Mataram menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang diskusi yang relevan, inklusif, dan berorientasi pada perubahan sosial yang berkelanjutan. @humas