Mataram, 7 November 2025 — Tim peneliti penerima dana Mora The Air Fund dari UIN Mataram menggelar kegiatan Diseminasi Penelitian bertajuk “Menuju Sekolah Zero Radikalisme: Pemetaan Potensi dan Tantangan di Tiga Wilayah Indonesia (Bali, Pontianak, dan Makassar) serta Sekolah Indonesia Luar Negeri Arab Saudi”, bertempat di Favehotel Langko, Mataram – Lombok.

Kegiatan ini dihadiri oleh Kasubdit Litapdimas Direktorat PTKI Kementerian Agama RI, Dr. Nur Kafid, S.Th.I.M.Sc. dan  Prof. Dr. Mansur Afifi, Guru Besar Universitas Mataram, sebagai penanggap, keduanya  memberikan penilaian yang sangat positif dan masukan konstruktif.

Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I UIN Mataram, Prof. Dr. Adi Fadli, M.Ag., dan dihadiri oleh  Dosen, Kepala Sekolah dan tenaga pendidik SMPN 1, SMPN 2, SMAN 2 Mataram dan SMAN 1 Gerung Lombok Barat. Sementara itu, Prof. Dr. Kadri, M.Si., Ketua LP2M UIN Mataram, menyampaikan apresiasi kepada tim peneliti yang terdiri dari Dr. Emawati (UIN Mataram), Dr. Anisatun Muthiah (UIN Cirebon), dan Dr. Lailatuzz Zuhriyah (UIN Tulungagung). “Saya mengucapkan selamat dan bangga atas capaian penelitian tahun pertama. Riset ini menunjukkan semangat kolaborasi lintas kampus dan memberikan kontribusi nyata dalam penguatan pendidikan moderasi beragama,” ujarnya.

Dalam ulasannya, Dr. Nur Kafid menegaskan pentingnya hasil riset berbasis data lapangan untuk memperkuat kebijakan pencegahan radikalisme di dunia pendidikan. “Program Mora The Air Fund ini diharapkan tidak hanya menghasilkan publikasi akademik, tetapi juga menjadi dasar pengambilan kebijakan yang relevan dengan konteks sosial-keagamaan Indonesia. Penelitian seperti ini menjadi bukti nyata bahwa perguruan tinggi Islam mampu berkontribusi pada isu strategis nasional bahkan global,” ungkapnya.

Prof. Dr. Mansur Afifi menambahkan: “Penelitian ini memetakan potensi dan tantangan dalam pencegahan radikalisme di sekolah-sekolah di Bali, Pontianak, dan Makassar, serta di Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) Arab Saudi. Hasil temuan yang dilaporkan menunjukkan bahwa lingkungan sekolah dengan budaya dialog terbuka dan penguatan literasi keagamaan moderat menjadi potensi kuat untuk menangkal radikalisasi. Namun demikian, tantangan masih muncul dalam bentuk keterbatasan kapasitas guru, integrasi nilai toleransi dalam kegiatan belajar, serta pengaruh media digital terhadap perilaku dan cara pandang peserta didik. Ini menjadi PR yang harus dijawab oleh tim periset pada tahun berikutnya, dengan merumuskan desain aplikasi atau desain pembelajaran yang inklusif dan moderat.

“Harapan kami, hasil riset ini dapat menjadi referensi bagi pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam merancang strategi pencegahan radikalisme sejak dini melalui jalur pendidikan,” tutup Dr. Emawati selaku ketua tim peneliti.Adita@humas