MATARAM: Semangat kepahlawanan yang membara di bulan November tak hanya hidup di medan juang sejarah, tetapi juga di ruang-ruang perjuangan kebijakan publik. Dalam momentum Hari Pahlawan tahun ini, Rektor UIN Mataram sekaligus Ketua Forum Rektor PTKIN se-Indonesia, Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag, tampil di Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VIII DPR RI sebagai suara dari timur Indonesia menyuarakan pentingnya pemerataan dan keadilan dalam pembangunan pendidikan Islam nasional.

Dalam forum yang dihadiri para rektor PTKIN dari berbagai wilayah Indonesia, Prof. Masnun menegaskan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam di luar Pulau Jawa bukan sekadar pelengkap, tetapi pelopor kemajuan dan penggerak transformasi pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman, kearifan lokal, dan semangat kebangsaan.

“PTKIN di luar Jawa bukan pelengkap, tetapi pelopor. Dari Mandalika, dari Lombok, dari Timur Indonesia kita membawa semangat membangun bangsa dari akar budaya dan nilai Islam yang membumi,” tegas Prof. Masnun dalam pernyataannya di hadapan anggota Komisi VIII DPR RI.

Momentum RDP tersebut menjadi wadah penting untuk menyatukan pandangan para pimpinan PTKIN terkait arah kebijakan pendidikan Islam di masa depan. Prof. Masnun menyoroti empat prioritas strategis: penguatan sumber daya manusia, percepatan transformasi digital, penguatan kolaborasi antar-PTKIN, dan afirmasi kebijakan bagi kampus-kampus di seluruh Nusantara.

Menurutnya, semangat Hari Pahlawan harus diterjemahkan dalam bentuk nyata perjuangan intelektual—yakni memperjuangkan akses dan kesempatan yang setara bagi seluruh kampus Islam negeri di penjuru tanah air.

“Pahlawan hari ini adalah mereka yang berjuang di bidang ilmu, keadilan, dan kemanusiaan. Pendidikan Islam harus menjadi cahaya yang menerangi seluruh wilayah negeri, tanpa batas pusat dan pinggiran,” ungkapnya penuh inspirasi.

Sebagai kampus yang tumbuh di jantung Mandalika, UIN Mataram hadir dengan semangat “Dari Mandalika untuk Indonesia,” membawa energi kolaborasi dan inovasi menuju pendidikan tinggi Islam yang berdaya saing global. UIN Mataram berkomitmen menjadi garda depan dalam membangun jaringan keilmuan yang berkeadilan, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Prof. Masnun menutup pernyataannya dengan refleksi moral yang kuat di tengah peringatan Hari Pahlawan:

“Pahlawan sejati bukan hanya mereka yang gugur di medan perang, tetapi juga mereka yang terus berjuang di medan ilmu dan pengabdian. Dari Mandalika, kita suarakan keadilan. Dari Timur, kita bangun harapan.”

Dengan kiprah ini, UIN Mataram tidak hanya tampil sebagai institusi akademik, tetapi juga sebagai simbol gerakan pencerahan dan pemerataan pendidikan Islam yang berpihak pada daerah. Suara dari Mandalika kini menggema di Senayan menjadi bagian dari perjuangan nasional untuk masa depan pendidikan Islam yang lebih adil, maju, dan membumi. Adita@Humas-ppid