Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram bekerja sama dengan mahasiswa peserta Kuliah Kerja Partisipatif (KKP) Desa Dasan Baru Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat, pada Selasa 21 Juli 2026 melaksanakan kegiatan pendampingan Program Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak. Kegiatan tersebut dikemas dalam bentuk sosialisasi dan pendampingan edukatif dengan sasaran utama santriwan-santriwati di lingkungan Pondok Pesantren (PP) Modern al-Kasyif Kebon Orong Dasan Baru Kediri.
Kolaborasi antara PSGA UIN Mataram, mahasiswa KKP, pengelola pesantren, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang aman serta mendukung tumbuh kembang anak. Program ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran generasi muda mengenai pencegahan pernikahan anak, kesehatan reproduksi, pembentukan konsep self-worth atau penghargaan terhadap diri sendiri, serta pentingnya pendidikan sebagai instrumen utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Melalui kegiatan tersebut, para santri diharapkan mampu memahami hak-haknya, menghargai potensi dirinya, dan membuat keputusan yang sehat serta bertanggung jawab bagi masa depannya.

Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif dan komunikatif. Kegiatan dihadiri langsung oleh Kepala Desa Dasan Baru, Kepala Dusun Kebon Orong, Pimpinan Yayasan, semua Kepala Sekolah di lingkungan PP Modern Al-Kasyif. Para santri tidak hanya menerima materi melalui ceramah, tetapi juga dilibatkan dalam diskusi, tanya jawab, refleksi diri, permainan edukatif, dan penyelesaian studi kasus. Pendekatan tersebut diterapkan agar materi yang disampaikan lebih mudah dipahami dan sesuai dengan gambaran kehidupan sehari-hari para santri terutama di lingkungan pesantren, dan nanti di masyarakat ketika mereka sudah keluar dari pondoknya.
Salah satu materi utama dalam kegiatan ini adalah pencegahan pernikahan anak. Para peserta diberikan pemahaman mengenai berbagai risiko yang dapat muncul akibat pernikahan pada usia anak, baik dari aspek kesehatan, psikologis, sosial, ekonomi, maupun pendidikan. Pernikahan anak tidak hanya berpotensi menghambat kelanjutan pendidikan, tetapi juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan reproduksi, ketidaksiapan mental dalam menjalani kehidupan rumah tangga, konflik keluarga, serta keterbatasan kesempatan untuk mengembangkan potensi diri.
Melalui proses pendampingan, para siswa didorong untuk merencanakan masa depan secara matang dan tidak terburu-buru mengambil keputusan yang berdampak besar terhadap kehidupannya. Mereka diajak mengenali cita-cita, potensi, serta langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Pendidikan ditekankan sebagai fondasi penting yang dapat memperluas wawasan, meningkatkan keterampilan, membuka kesempatan kerja, dan memperkuat kemandirian ekonomi.

Selain pencegahan pernikahan anak, kegiatan ini juga memberikan pengenalan mengenai kesehatan reproduksi. Materi disampaikan dengan metode brainstorming atau curah ide dan gagasan yang disesuaikan dengan usia para santriwan dan striwati kelas XII serta nilai-nilai pendidikan pesantren. Para santri dikenalkan pada perubahan fisik dan psikologis selama masa remaja, pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan organ reproduksi, pola hidup sehat, serta cara melindungi diri dari perilaku dan tindakan yang berisiko.
Materi lainnya juga membahas konsep self-worth, yaitu kesadaran bahwa setiap individu memiliki nilai, martabat, potensi, dan hak untuk dihargai. Pemahaman terhadap self-worth diperlukan agar santri mampu membangun kepercayaan diri, menetapkan batasan yang sehat dalam pergaulan, serta tidak mudah menerima tekanan maupun perlakuan yang merendahkan dirinya.
Para santri diajak memahami bahwa nilai diri seseorang tidak hanya ditentukan oleh penampilan fisik, kondisi ekonomi, penilaian orang lain, maupun popularitas. Nilai diri juga tumbuh dari karakter, usaha, tanggung jawab, kemampuan belajar, kepedulian terhadap sesama, dan keberanian untuk terus berkembang. Dengan penghargaan diri yang baik, santri diharapkan mampu membuat keputusan secara sadar, menghindari pergaulan yang merugikan, dan berani menyampaikan persoalan kepada orang dewasa yang dapat dipercaya, terutama kepada orang tuanya atau walinya.
Pendidikan sebagai Jalan Membangun Masa Depan

Dalam kegiatan tersebut, Ibu Erma Suriani, Kepala Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Mataram menyampaikan pendidikan ditempatkan sebagai instrumen utama peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai proses memperoleh ijazah, tetapi juga sebagai sarana membangun pengetahuan, keterampilan, karakter, kemandirian, dan kemampuan menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, para santri didorong untuk mempertahankan semangat belajar dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ibu Erma menyampaikan bahwa UIN Mataram memiliki lebih dari 37 program studi untuk melanjutkan studi ke jenjang S1, S2 dan S3. Memberikan akses dan peluang para santri untuk memilih jurusan atau program studi yang diminatinya.
Kegiatan pendampingan ini juga menjadi ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa peserta KKP UIN Mataram untuk lebih mengenali persoalan di masyarakat. Mahasiswa tidak hanya menjalankan kegiatan pengabdian secara administratif, tetapi turut terlibat dalam mengidentifikasi persoalan yang dihadapi masyarakat, menyusun materi, membangun komunikasi dengan santri, serta merancang kegiatan edukatif yang sesuai dengan kebutuhan sasaran.
Kerja sama ini merupakan bentuk komitmen PSGA UIN Mataram dalam mendukung terwujudnya Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak. Program tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak karena perlindungan perempuan dan anak tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Pencegahan pernikahan anak, pemenuhan hak pendidikan, peningkatan literasi kesehatan reproduksi, serta penguatan penghargaan diri harus dilaksanakan secara berkelanjutan mulai dari lingkungan keluarga, lembaga pendidikan termasuk di dalmnya adalah pesantren, hingga masyarakat.
Melalui kegiatan pendampingan dan sosialisasi ini, PSGA UIN Mataram bersama mahasiswa KKP berharap para siswa pesantren memiliki pengetahuan yang lebih baik mengenai risiko pernikahan anak, mampu menjaga kesehatan reproduksi, memiliki penghargaan diri yang positif, serta semakin menyadari pentingnya pendidikan. Para peserta juga diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang menyampaikan pesan-pesan positif kepada teman sebaya, keluarga, dan masyarakat di sekitarnya.
Kolaborasi PSGA UIN Mataram dan mahasiswa KKP menegaskan peran perguruan tinggi dalam menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Dengan membangun kesadaran sejak usia remaja, program ini diharapkan berkontribusi dalam menciptakan generasi yang sehat, berpendidikan, percaya diri, mandiri, dan mampu menentukan masa depannya secara bertanggung jawab.@humas


