HUMAS – Padang, Tanggal 28 April 2026, dilaksanakan kegiatan penting PILJAMU PTKIN yang dihadiri langsung oleh Direktur Perguruan Tinggi Islam Direktorat Pendidikan Islam Kemenag RI, Prof. Dr. Phil. H. Sahiron MA. yang menyampaikan materi tentang:
Kebijakan Implementasi SPMI PTKI: Singkronisasi Regulasi dan Tantangan Pasca Permendiktisaintek no. 39. tahun 2025.

Dalam arahan Prof Direktur Diktis menyampaikan Lima Poin penting:

Pertama:
Kebijakan Implementasi SPMI PTKI harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan keterlibatan semua unsur sivitas akademika PTKI dan pemangku kebijakan. Keterlibatan semua pihak menjadi pemicu dalam menjaga mutu kualitas berkelanjutan dari PTKI di seluruh Indonesia.

LPM sebagai penjaga mutu harus terus intens menjalin koordinasi dengan rektor, wakil rektor sebagai leading sector terhadap penjaminan mutu akademik PTKI. maka harus dibarengi dengan kebijakan kebijakan yang teknis praktis guna tercapainya mutu PTKI yang bersaing global dan terrekognisi internasional. Ini harus menjadi fokus semua pimpinan PTKI di bawah satuan kerja Kemenag RI.

Kedua:
DIKTIS Harus berdampak global. Maka beberapa Program aktual Diktis yang harus didukung oleh semua pihak khususnya Pimpinan PTKIN.
1]. Indonesia Global Talent Services [IGTS]. Sebuah wadah yang mengorganize calon-calon mahasiswa asing yang ingin menempuh kuliah di PTKIN.
Program ini disemangati langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, yang bertanya kepada Menteri Agama RI, secara khusus tentang berapa banyak mahasiswa asing/luar negeri yang kuliah di Perguruan Tinggi kita? Kenapa kita kalah dengan Malaysia, Singapura? Yang mahasiswa asing mereka lebih dari ratusan ribu, sementara kita di Indonesia belum sampai puluhan ribu. Maka saya instruksikan kepada para Menteri untuk dapat mencapai 100.000 ribu mahasiswa asing yang belajar di Indonesia sampai tahun 2029.
Berdasarkan intruksi itu, Dirjen Pendis melalui Direktur Pendidikan Tinggi Islam membuat wadah IGTS tersebut untuk memawadahi para mahasiswa asing yang ingin belajar di PTKIN di seluruh Indonesia.

Ketiga:
Program Pemengkasan Kemiskinan yang dilakukan oleh PTKIN.
Selain UKT [Uang Kuliah Tunggal] selain KIP. dengan rencana aksinya apa di tahun 2026 ini?
Skema Pertama: UKT terendah Rp. 400.000 ribu, seberapa banyak yang menerima UKT ini, sebagai wujud keberpihakan PTKI dalam memberikan kesempatan bagi masyarakat miskin untuk dapat mengenyam pendidikan murah di PTKIN.
Skema kedua: Berapa jumlah mahasiswa yang diturunkan UKT nya dari UKT tertinggi menuju UKT Sedang sampai ke UKT Terrendah. Ini harus dibuatkan skema dan regulasi kebijakan teknis agar tidak menyalahi aturan yang berlaku.
Berikutnya: Skema Penelitian PTKIN seberapa berdampak di tengah-tengah masyarakat. Harus ada instrumen yang valid untuk mengukur dampak manfaat dari hasil riset para dosen PTKIN. Ini harus terukur. Begitu juga Pengabdian kepada Masyarakat harus lebih berdampak di tengah-tengah masyarakat. Maka KKP PTKIN harus berubah orientasinya menuju kebermanfaatan yang berkelanjutan dan produktif agar dapat mengurai angka kemiskinan masyarakat. Ini harus diatur sistem dan mekanismenya oleh LP2M PTKIN.

Keempat:
PTKIN se Indonesia harus fokus kepada INTEGRASI KEILMUAN.

Selama ini implementasi integrasi keilmuan di PTKIN masih kecil frekuensinya, maka ini harus menjadi kebijakan semua pimpinan PTKIN.
Minimal Integrasi keilmuan PTKIN ini tercermin dalam tiga Integrasi Penting.

Pertama: INTEGRASI METODIS.
Kajian-kajian Islamic Studies bergabung dengan kajian-kajian social studies, agar terintegrasi secara metodis.
Kedua: INTEGRASI SUBSTANTIF.

Pertanyaannya? Apa beda Fakultas Kedokteran PTKIN dengan Fakultas Kedokteran PTU?
Ini harus bisa dijawab apa distingsinya.
Minimal bisa dijelaskan bahwa Fak. Kedokteran PTKIN menggabungkan keilmuan umum kedokteran dengan keilmuan kedokteran islam, seperti teori kedokteran islam yang dicetuskan oleh Ibn Shina, semisal
القانون فى الطب.
Kitab Al-Ruuh oleh Imam Fakhruddin Arrozi.

كتاب الرحمة فى الطب والحكمة
Kitab Arrahmah fi althibbi wal hikmah karya Imam Assuyuthi.
Atau Integrasi dalam bidang psikologi Islam dengan psikologi umum?, atau integrasi dalam Tadris Matematika dengan Matematika umum, dst. Maka harus ada distingsi yang jelas dari dua disiplin keilmuan itu. Nah ini tantangan kita semua dalam memberikan respon terhadap pertanyaan kementerian saintekdiktis terkait hal itu.
Ketiga: INTEGRASI ETIS.
Perlunya gabungan antara Etis dengan medis, ada nilai-nilai spritualitas, intelektualitas, sosialitas dan emosionalitas dalam berbagai disiplin keilmuan. Tantang Kurikulum PTKIN kita adalah belum terramunya dengan afik sistematis terukur dan terpola ketiga jenis integrasi tersebut dalam aspek tridharma PTKIN kita.

Kegiatan Fokus kelima Diktis adalah: Program Internasionalisasi.

Diktis akan intens melakukan kolaboratif dengan universitas terkemuka di Eropa, Amerika, Australia dan juga ke Timur Tengah.
Program ini akan melibatkan dosen dosen yang penguasaan bahasa arab inggrisnya dan metodologi bisa berkompetensi nantinya untuk menjadi dosen ahli di Laiden University, di Maroko, Mesir dan universitas luar negeri lainnya. Hanya sistem ini yang dapat dijadikan batu loncatan untuk meraih rekognisi internasional disamping karya karya ilmiah menumental lainnya.
Juga dilaksanakan Visiting Profesor ke berbagai Universitas luar negeri sebagai ajang kolaboratif keilmuan dari berbagai bidang kajian. Di samping itu penguatan program Chair of Indonesia Islam in the World]. Menjadi nara sumber di forum forum ilmiah internasional sebagai upaya peningkatan rangking PTKIN berkelas dunia.

Inilah kebijakan kebijakan yang sedang dan akan diusahakan oleh Diktis dalam rangka menjamin mutu kualitas lulusan PTKIN di seluruh Indonesia.
Justru Lembaga Penjaminan Mutu PTKIN harus terdepan menjadi penjaga gawang kualitas mutu PTKIN dari segala sektor.@humas