MATARAM:  Dinamika arus mudik Lebaran 1447 H/2026 M tidak hanya menghadirkan mobilitas sosial yang tinggi, tetapi juga melahirkan refleksi akademik yang bernilai strategis. Hal ini tergambar dari langkah Prof. DR. TGH. Masnun Tahir yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Rektor PTKIN Indonesia, dalam mendorong transformasi model pengabdian masyarakat berbasis masjid. Senin, 23/03/2026

Melalui pemantauan intensif terhadap pelaksanaan program Masjid Ramah Pemudik yang diinisiasi oleh Menteri Agama, Prof DR KH Nasaruddin Umar, Universitas Islam Negeri Mataram tidak hanya berperan sebagai pelaksana layanan publik, tetapi juga sebagai laboratorium sosial yang melahirkan inovasi akademik kontekstual.

Tim Humas UIN Mataram bersama relawan khidmat masjid yang terdiri dari mahasiswa, alumni, serta unit kegiatan mahasiswa seperti Menwa dan Formakipsi, terjun langsung ke lapangan untuk memastikan layanan bagi pemudik berjalan optimal. Keterlibatan multi-elemen ini memperkuat pendekatan kolaboratif yang menjadi ciri khas model pelayanan berbasis masjid.

Hasil pemantauan di sejumlah titik jalur mudik menunjukkan bahwa arus kendaraan, baik menuju arah timur maupun barat, terpantau ramai namun tetap lancar. Dalam kondisi tersebut, masjid menjadi salah satu titik persinggahan paling diminati oleh para pemudik. Selain sebagai tempat ibadah, masjid juga berfungsi sebagai rest area yang aman dan nyaman untuk beristirahat, melepas lelah, hingga memenuhi kebutuhan dasar seperti makan dan minum.

Menurut Rektor, Prof DR TGH Mansun Tahir mengaskan bahwa fenomena ini menunjukkan bahwa masjid memiliki potensi besar sebagai pusat pelayanan sosial yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat modern. “Masjid bukan hanya ruang ibadah, tetapi juga ruang sosial yang hidup. Di sinilah nilai-nilai keislaman bertransformasi menjadi praktik nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” ungkapnya.

Lebih jauh, dari praktik pelayanan tersebut lahir gagasan akademik yang mendorong pengembangan Kuliah Kerja Partisipatif (KKP) berbasis masjid. Model ini dipandang sebagai inovasi dalam pengabdian masyarakat yang mengintegrasikan dimensi keilmuan, sosial, dan spiritual secara simultan.

Sebagai Ketua Forum Rektor PTKIN Indonesia, ia menegaskan bahwa pendekatan KKP berbasis masjid dapat menjadi paradigma baru dalam pendidikan tinggi keagamaan Islam. Mahasiswa tidak hanya ditempatkan sebagai pelaksana program, tetapi sebagai agen perubahan yang berinteraksi langsung dengan realitas sosial masyarakat melalui penguatan fungsi masjid.

“Transformasi ini penting agar pendidikan tinggi tidak terjebak pada ruang kelas semata, tetapi hadir secara nyata di tengah masyarakat. Masjid menjadi pusat pembelajaran sosial yang kontekstual, sekaligus ruang pemberdayaan umat yang berkelanjutan,” tegasnya.

Inisiatif ini diharapkan dapat direplikasi secara nasional sebagai bagian dari penguatan peran PTKIN dalam menjawab tantangan zaman. Dengan mengintegrasikan layanan publik dan inovasi akademik, UIN Mataram menunjukkan bahwa pengalaman lapangan dapat menjadi sumber inspirasi dalam merancang model pendidikan yang lebih relevan, adaptif, dan berdampak luas. Adita@Humas-ppid