MATARAM: Istana Merdeka menjadi saksi pertemuan penting antara negara dan dunia akademik pada 15 Januari 2025. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memberikan taklimat strategis kepada para rektor, pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta, serta guru besar dari seluruh Indonesia. Minggu, 17/01/2026

Dua guru besar UIN Mataram turut hadir dalam forum strategis ini, yakni Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag., Rektor UIN Mataram, dan Prof. Dr. H. Maimun Zubair, M.Pd., Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Mataram. Kehadiran mereka sejajar dengan para profesor dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi ternama di Tanah Air, memperkuat peran PTKIN sebagai mitra strategis negara dalam pengembangan gagasan dan kebijakan nasional.

Taklimat yang berlangsung hampir tiga jam ini menegaskan visi besar Presiden: Indonesia harus bertransformasi menjadi brain country—bangsa yang cerdas membaca zaman, memahami perubahan global, dan meresponsnya dengan strategi yang matang dan berdaulat. Presiden menekankan bahwa kualitas elit bangsa menentukan arah kemajuan, sehingga perguruan tinggi ditempatkan sebagai mitra strategis negara dalam menghasilkan gagasan, analisis kebijakan, dan panduan etika bernegara.

Dalam arahannya, Presiden Prabowo menekankan pentingnya statecraft, keterampilan mengelola urusan negara secara cermat, realistis, dan berbasis kepentingan nasional jangka panjang. Ia mencontohkan strategi negara besar seperti Amerika Serikat dan Tiongkok, yang memaksimalkan seluruh instrumen kekuatan nasional untuk menjaga pengaruh global. Indonesia, menurut Presiden, harus cerdas, tidak naif, dan mampu menempatkan kepentingan nasional di atas romantisme ideologis.

Presiden juga menekankan peran strategis perguruan tinggi sebagai think tank bangsa, yang tidak hanya mengajar dan meneliti, tetapi juga mampu membaca risiko, peluang, dan arah masa depan di tengah perubahan global yang cepat dan kompleks. Sejarah kolonialisme Belanda dijadikan pelajaran penting mengenai nilai strategis sumber daya alam Indonesia. Oleh karena itu, pengelolaan hutan, air, dan udara harus sepenuhnya berada di tangan bangsa Indonesia, didukung riset dan kajian akademik yang mendalam.

Dalam forum tersebut, Presiden menekankan peran cendekiawan untuk aktif menutup “lubang-lubang bocor” dalam tata kelola negara. Upaya ini telah menghasilkan efisiensi anggaran sekitar Rp190 triliun, yang kemudian dialokasikan untuk program Makan Bergizi Gratis, pembangunan gedung sekolah, dan berbagai program strategis lainnya. Perguruan tinggi akan menjadi salah satu sektor penerima manfaat dari efisiensi ini, sebagai bagian dari investasi negara pada kecerdasan bangsa.

Presiden menutup arahannya dengan kutipan Albert Einstein: “Insanity is doing the same thing over and over again and expecting different results.” Indonesia, menurutnya, membutuhkan perubahan cara berpikir dan keberanian moral, agar transformasi menuju brain country tidak sekadar jargon, tetapi tercermin dalam kebijakan nyata yang berpihak pada kepentingan rakyat.

Kehadiran Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag. dan Prof. Dr. H. Maimun Zubair, M.Pd. menegaskan kontribusi UIN Mataram dalam membangun bangsa cerdas, tangguh, dan berdaulat. Dalam pusaran geopolitik global, ilmu pengetahuan, akal sehat, dan keberanian moral menjadi fondasi utama bagi Indonesia menuju masa depan yang adil, bermartabat, dan berkelanjutan. Adita@Humas-ppid