Jakarta — Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag, menghadiri taklimat strategis yang disampaikan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kepada para rektor, pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta, serta guru besar dari seluruh Indonesia. Kegiatan tersebut berlangsung di Istana Merdeka, Rabu (15/1/2025).

Sejak pagi, Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag bersama Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan turut bergabung dengan jajaran pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dan perguruan tinggi umum dari berbagai daerah. Forum ini menjadi ruang pertemuan strategis antara negara dan dunia akademik dalam merespons tantangan global yang semakin kompleks.

Taklimat yang berlangsung hampir tiga jam tersebut tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan sarat dengan pesan intelektual, kebangsaan, dan geopolitik. Dalam arahannya, Presiden Prabowo menegaskan visi besar Indonesia untuk bertransformasi menjadi brain country, yakni bangsa yang cerdas membaca perubahan zaman, memahami dinamika global, serta mampu meresponsnya dengan strategi yang matang dan berdaulat.

Presiden membuka pertemuan dengan menyampaikan apresiasi kepada para guru besar, rektor, dan dekan. Menurut Presiden, kalangan akademisi merupakan elit intelektual bangsa yang lahir melalui proses akademik panjang dan ketat, sekaligus memiliki tanggung jawab moral dan strategis dalam menentukan arah kemajuan negara.

Presiden menegaskan bahwa maju atau mundurnya suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas elitnya. Dalam konteks tersebut, konsep brain country menjadi relevan karena negara tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam, melainkan membutuhkan kejernihan berpikir, integritas moral, serta kecerdasan strategis para pemimpinnya.

Dalam perspektif kenegaraan, Presiden menekankan pentingnya statecraft atau kecakapan mengelola urusan negara. Menurutnya, negara tidak bisa dijalankan hanya dengan niat baik atau idealisme semata, tetapi harus dilandasi kemampuan membaca realitas, mengelola kekuatan nasional, dan mengambil keputusan berbasis kepentingan jangka panjang.

Di sinilah, lanjut Presiden, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai mitra negara, bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat produksi gagasan, analisis kebijakan, dan panduan etik bagi penyelenggaraan pemerintahan.

Presiden juga mengulas dinamika geopolitik global dengan merujuk pada berbagai kajian universitas ternama dunia. Ia menjelaskan bahwa praktik bernegara dewasa ini banyak didominasi pendekatan realisme, terutama dalam menjaga kepentingan nasional di bidang keamanan dan ekonomi. Oleh karena itu, Indonesia dituntut untuk tidak bersikap naif dan terjebak romantisme ideologis tanpa membaca realitas global secara jernih.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden mengingatkan kalangan akademisi agar tidak terjebak dalam rutinitas mengajar dan meneliti tanpa mempertimbangkan konteks geopolitik global. Perguruan tinggi diharapkan berperan sebagai think tank bangsa yang mampu membantu negara membaca risiko, peluang, dan arah masa depan.

Presiden turut menyinggung pelajaran sejarah kolonialisme sebagai bukti nilai strategis sumber daya alam Indonesia. Karena itu, penguasaan dan pengelolaan sumber daya nasional harus berada di tangan bangsa sendiri dengan dukungan riset dan kajian akademik yang kuat. Kebijakan pengelolaan sumber daya alam tersebut, menurut Presiden, memiliki landasan konstitusional yang kuat sebagaimana diatur dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.

Menutup arahannya, Presiden Prabowo mengajak para rektor, dekan, dan guru besar untuk turut aktif membantu memperbaiki tata kelola negara. Upaya efisiensi yang telah dilakukan pemerintah, kata Presiden, berhasil menghemat anggaran hingga Rp190 triliun yang dialokasikan untuk berbagai program strategis, termasuk sektor pendidikan.

Menanggapi arahan Presiden tersebut, Rektor UIN Mataram Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag menilai bahwa taklimat strategis ini memberikan penguatan perspektif bagi perguruan tinggi dalam membaca tantangan global dan peran akademisi di masa depan.

Menurutnya, gagasan brain country menuntut perguruan tinggi untuk tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan secara kebangsaan dan kenegaraan. “Perguruan tinggi harus mampu melahirkan sumber daya manusia yang cerdas secara intelektual, kuat secara moral, serta memiliki kepekaan geopolitik dan keberpihakan pada kepentingan nasional,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa UIN Mataram sebagai bagian dari PTKIN memiliki tanggung jawab strategis untuk mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan keilmuan dalam proses pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, pesan Presiden tentang pentingnya statecraft sejalan dengan misi perguruan tinggi Islam dalam membangun etika kepemimpinan dan tata kelola negara yang berkeadilan.

“UIN Mataram siap memperkuat peran sebagai pusat produksi gagasan dan think tank keumatan serta kebangsaan, melalui riset-riset strategis, kajian kebijakan publik, dan penguatan kualitas lulusan yang adaptif, visioner, serta berdaya saing global,” tambahnya.

Kehadiran Rektor UIN Mataram dalam forum taklimat strategis di Istana Merdeka tersebut menegaskan komitmen perguruan tinggi keagamaan Islam untuk berperan aktif dalam pembangunan nasional, khususnya dalam mewujudkan Indonesia sebagai brain country yang berdaulat, adil, dan bermartabat di tengah dinamika global.Adita@humas-ppid