MATARAM: Peringatan Hari Guru Nasional kembali menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan Indonesia untuk menegaskan kembali betapa strategisnya peran guru dalam membentuk kualitas peradaban bangsa. Di tengah perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang berlangsung begitu cepat, guru tidak lagi dipahami sebatas penyampai pengetahuan, melainkan aktor utama yang menumbuhkan kreativitas, karakter, dan kemampuan berpikir kritis generasi masa depan. Refleksi yang disampaikan Prof. Dr. Bahtiar, Guru Besar UIN Mataram, menempatkan profesi guru dalam kerangka ilmiah, pedagogis, dan kemanusiaan, sehingga menjadi jelas bahwa guru adalah pilar penting dalam moderasi sosial dan penataan moral di tengah derasnya arus digital.
Peran guru sebagai arsitek pendidikan terletak pada keteladanan yang mereka hadirkan setiap hari. Dalam konsep pedagogi modern, guru tidak hanya mengajar tetapi menjadi hidden curriculum yang membentuk karakter peserta didik melalui integritas, empati, dan kedisiplinan yang tercermin dalam keseharian. Dalam dunia yang semakin dipenuhi oleh teknologi, sentuhan kemanusiaan inilah yang membuat kehadiran guru tidak tergantikan. Interaksi tatap muka, perhatian tulus, dan sensitivitas sosial menjadi modal dasar yang memampukan guru menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter kuat.
Transformasi pendidikan menuntut guru untuk terus berinovasi di era AI, big data, dan implementasi Kurikulum Merdeka. Guru kini diposisikan sebagai perancang pengalaman belajar yang harus mampu mengembangkan model pembelajaran kreatif seperti pembelajaran berbasis proyek, diferensiasi pembelajaran, dan penguatan student agency. Melalui penelitian tindakan kelas, pemutakhiran media digital, dan inovasi metodologis lainnya, guru berperan sebagai motor perubahan yang berkontribusi pada peningkatan kualitas pembelajaran nasional.
Dalam konteks masyarakat multikultural, guru juga memikul tanggung jawab sosial sebagai penjaga harmoni dan penata ruang dialog. Penanaman nilai toleransi, kebhinekaan, dan moderasi beragama sangat bergantung pada kualitas interaksi guru dengan siswa. Ketika disinformasi dan polarisasi digital semakin marak, guru tampil sebagai penjaga literasi media yang membimbing peserta didik untuk memilah informasi serta membangun sikap kritis dan etis terhadap arus komunikasi publik yang semakin kompleks.
Refleksi ini juga menyoroti tantangan berat yang dihadapi guru, mulai dari beban administrasi yang menumpuk, kesenjangan literasi digital, hingga kondisi sarana prasarana yang belum merata. Berbagai tekanan profesional dan kesejahteraan pun kerap menjadi isu yang menahan laju kreativitas guru. Situasi tersebut menuntut lahirnya kebijakan afirmatif yang memperkuat ekosistem pendidikan secara menyeluruh agar guru mampu menjalankan perannya dengan optimal.
Penguatan profesionalisme guru menjadi kunci dalam menghadapi tuntutan pendidikan abad ke-21. Melalui berbagai program seperti CPD, MGMP, Guru Penggerak, PPG, dan platform Merdeka Mengajar, guru diharapkan terus memperluas kompetensi pedagogik, digital, dan profesionalnya. Program-program ini harus benar-benar menjadi ruang berkembang yang memberi daya dukung nyata terhadap peningkatan kemampuan guru, bukan sekadar rutinitas administratif.
Pada akhirnya, di balik seluruh teori, kebijakan, dan pendekatan pedagogik, guru tetaplah manusia yang bekerja dengan ketulusan hati. Perhatian sederhana, kata-kata penyemangat, dan kesabaran dalam mendidik adalah cahaya kemanusiaan yang tidak dapat diukur dalam angka apa pun. Prof. Bahtiar mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, dan guru berada pada garda terdepan dalam proses tersebut. Peringatan Hari Guru Nasional menjadi penegas bahwa guru bukan hanya pengajar, melainkan pondasi utama peradaban dan penggerak transformasi pendidikan Indonesia menuju masa depan yang lebih inklusif, inovatif, dan berkarakter. Adita@Humas-ppid


