MATARAM: Di tengah arus percepatan perubahan dunia birokrasi yang ditandai dengan digitalisasi, restrukturisasi kelembagaan, dan tuntutan transparansi publik, UIN Mataram menggelar kegiatan pembinaan bertajuk “Pembinaan Tata Kelola PTKIN: UIN Mataram dalam Dinamika Perubahan Cepat Dunia Birokrasi.”

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan kampus UIN Mataram ini menghadirkan narasumber nasional, Prof. Dr. Nursyam, M.Si., Guru Besar Sosiologi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya, sekaligus Tim Penasehat Ahli Menteri Agama RI. Selain dikenal sebagai akademisi dan sosiolog terkemuka, Prof. Nursyam juga merupakan pendiri nursyamcentre.com dan nursyam.uinsa.ac.id, serta penulis buku-buku penting seperti “Friendly Leadership,” “Integrasi Ilmu Madzab Indonesia,” dan “Perguruan Tinggi Islam di Indonesia: Perspektif Sosiologi Pengetahuan.”
Dalam pemaparannya, Prof. Nursyam menekankan pentingnya membangun tata kelola perguruan tinggi yang tidak hanya efisien secara administratif, tetapi juga berakar pada nilai-nilai kemanusiaan dan keilmuan. “Birokrasi modern harus memiliki wajah yang humanis. Ia tidak boleh kehilangan ruhnya. Dalam konteks PTKIN, tata kelola harus dihidupkan oleh semangat ilmu, nilai, dan akhlak,” ujar Prof. Nursyam di hadapan para pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan UIN Mataram.

Menurutnya, percepatan perubahan kebijakan publik dan tata kelola di dunia pendidikan menuntut fleksibilitas dan kreativitas institusi. Perguruan tinggi keagamaan Islam harus tampil dengan karakter adaptive governance, yaitu sistem birokrasi yang mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan jati diri keislamannya. “Tata kelola yang baik bukan hanya urusan sistem dan regulasi, tapi tentang kepemimpinan yang memahami makna dan konteks perubahan sosial,” tegasnya.
Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag., dalam sambutannya memberikan apresiasi atas kehadiran dan pemikiran reflektif Prof. Nursyam. Ia menegaskan bahwa pembinaan semacam ini sangat penting dalam memperkuat kapasitas kelembagaan dan kualitas birokrasi akademik di lingkungan UIN Mataram. “Kami ingin membangun tata kelola yang tidak hanya patuh aturan, tetapi juga menumbuhkan budaya kerja yang cerdas, inovatif, dan berintegritas. Pemikiran Prof. Nursyam memberi arah bagi transformasi itu,” ujarnya.

Kegiatan pembinaan berlangsung dengan suasana diskusi yang hidup, di mana peserta berdialog mengenai tantangan reformasi birokrasi di PTKIN, pentingnya kolaborasi lintas disiplin, serta penerapan nilai-nilai kepemimpinan spiritual dalam tata kelola universitas.
Melalui kegiatan ini, UIN Mataram mempertegas posisinya sebagai perguruan tinggi Islam yang siap menapaki era baru birokrasi digital dengan semangat inovasi, keilmuan, dan kemanusiaan — mengabdi pada bangsa dengan tata kelola yang unggul, adaptif, dan berjiwa nilai. Adita@Humas


