Peluncuran Kurikulum Berbasis Cinta yang dikenal KBC oleh Kementerian Agama Republik Indonesia mendapat respon positif dari sejumlah kalangan, terutama dari pimpinan lembaga pendidikan. Muatan KBC yang sarat dengan nilai karakter kemanusiaan yang berbasis keagamaan dipandang sebagai jawaban atas kecenderungan harmoni relasi sosial yang semakin tercerabut dari substansi nilai agama, budaya, dan kebangsaan.

Dalam peluncuran KBC di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Menteri Agama, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A menegaskan pentingnya transformasi orientasi pendidikan keagamaan dari yang berfokus pada perbedaan menjadi titik temu dan persamaan antarumat manusia. “Kita bermaksud menciptakan suatu hegemoni sosial yang lebih elegan, yang lebih harmoni, dengan menekankan aspek titik temu, bukan perbedaan. Jangan sampai kita mengajarkan agama, tapi tidak sadar menanamkan kebencian kepada yang berbeda”

Lebih lanjut Nasaruddin Umar menyampaikan tantangan global berupa fenomena dehumanisasi, sehingga peran pemberdayaan umat difokuskan pada basis kemanusiaan dan harmoni kehidupan.Usai peluncuran, Prof. Dr. Masnun, M.Ag, Rektor UIN Mataram menyampaikan apresiasi atas peluncuran KBC. “Saat ini dibutuhkan solusi yang strategis dan tepat sasaran untuk menciptakan dunia yang lebih damai, harmonis, dan berkeadaban yang berada dalam satu kesatuan kerangka utuh berupa sikap saling mencintai antarsatu dengan yang lain.

Karena itulah kebijakan mulia ini harus kita kawal implementasinya,” ungkapnya.Sebelumnya (10/07/2025) UIN Mataram bekerja sama dengan Pusat Strategi Kebijakan PAI dan Keagamaan Kemenag menyelenggarakan FGD Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang melibatkan pimpinan dan dosen di lingkungan UIN Mataram. Dalam panduan implementasinya, KBC memuat enam cinta yang dibutuhkan, yaitu cinta kepada Allah SWT; cinta kepada Rasulullah Saw; cinta kepada diri sendiri; cinta kepada sesama; cinta kepada lingkunan; dan cinta kepada bangsa dan negara. @humas