Mataram: Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah disambut penuh makna oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk kalangan akademisi dan pegiat pendidikan Islam. Momen ini tidak sekadar menandai pergantian kalender hijriyah, melainkan menjadi ajakan reflektif dan transformatif untuk berhijrah secara nilai: dari rutinitas menuju kesadaran, dari sekadar simbolisme ke substansi, dari kekosongan spiritual menuju keutuhan peradaban. Dalam suasana ini, muncul gagasan kuat bahwa hijrah hari ini adalah membangun peradaban bangsa melalui pendidikan yang berakar pada cinta, etika, dan kasih sayang. Jumat, 27/06/2025

Di tengah berbagai tantangan kebangsaan yang diwarnai oleh polarisasi sosial, degradasi moral, serta disrupsi budaya dan teknologi, gagasan Kurikulum Cinta menjadi narasi segar yang layak digaungkan. Kurikulum ini bukan sekadar pendekatan pedagogis, tetapi sebuah paradigma pembentukan manusia yang utuh: cerdas secara intelektual, halus secara emosional, dan kokoh secara spiritual. Tahun Baru Islam menjadi momen strategis untuk mendorong lahirnya generasi pembelajar yang tidak hanya kompeten, tetapi juga penuh kasih, empati, dan tanggung jawab sosial.

Semangat hijrah yang digelorakan pada 1 Muharram kali ini tidak hanya mengajak individu untuk berubah secara personal, namun juga menuntut kolektivitas institusional dan kebangsaan untuk membangun arah baru. Hijrah nilai adalah jalan menuju penguatan karakter bangsa. Sementara Kurikulum Cinta adalah fondasi untuk membentuk peradaban yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga bermartabat secara kemanusiaan.

Momentum ini juga dikuatkan dengan amanah baru yang diberikan kepada pemimpin-pemimpin pendidikan Islam nasional, khususnya dari kalangan alumni Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK). Dalam Silaturahmi Nasional Alumni MAPK yang dilaksanakan di Jakarta, lahir tekad bersama untuk menjadikan jaringan alumni sebagai jembatan hijrah nilai dan pusat gerakan perubahan pendidikan Islam berbasis cinta dan integritas. MAPK bukan hanya ruang nostalgia, tetapi menjadi ruang strategis untuk membangun arus baru pemikiran, kebijakan, dan aksi sosial berbasis nilai-nilai Islam yang mencerahkan.

Tahun Baru Islam 1447 H menjadi sinyal kuat bahwa masa depan bangsa tidak bisa dibangun hanya dengan strategi teknokratis. Ia memerlukan sentuhan nilai, arah moral, dan komitmen kolektif untuk melahirkan sistem pendidikan yang menghidupkan hati dan membebaskan akal. Dalam semangat hijrah dan Kurikulum Cinta inilah, harapan Indonesia yang bermartabat dan berperadaban diletakkan. Adita@Humas