Mataram:  Pelaksanaan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) 2025 di UIN Mataram tak hanya menunjukkan keseriusan dalam hal teknis pelaksanaan ujian, tetapi juga kesiapan penuh dari sisi kesehatan dan keselamatan peserta. Komitmen tersebut dibuktikan saat salah seorang peserta, Hanny Malkhan, mengalami kondisi darurat kesehatan pada sesi ke-16 hari ini. Senin, 16/06/2025

Insiden terjadi saat Hanny sedang mengikuti ujian di lantai 4 Gedung Riset Center, ketika tiba-tiba ia tersungkur lemas dan pingsan di depan komputer. Menurut laporan pengawas ruangan, kondisi tersebut terjadi mendadak dan langsung mendapat respons cepat dari panitia dan tim medis yang bersiaga.

dr. Opi Yusaniar, Kepala Klinik Pratama UIN Mataram, yang memimpin tim medis menjelaskan bahwa Hanny mengalami gejala hipoglikemia, yaitu kondisi menurunnya kadar gula darah secara drastis. “Tindakan pertama kami lakukan observasi cepat, pengecekan tekanan darah, dan kemudian kami ambil langkah medis dengan pemasangan infus serta penanganan lanjutan di klinik,” jelas dr. Opi.

Suhirman Adita, Bersama panitia dan tim humas turut mengawal proses evakuasi peserta menjelaskan bahwa koordinasi antara panitia ujian, pengawas, dan tim medis berjalan baik. “Kami memastikan peserta mendapatkan penanganan medis yang cepat, aman, dan nyaman. Ini bagian dari komitmen UIN Mataram sebagai tuan rumah yang mengedepankan keselamatan dan kemanusiaan,” ujarnya.

Sejak hari pertama pelaksanaan ujian hingga saat ini, tim medis telah disiagakan di semua sesi dan titik pelaksanaan ujian, melakukan pemantauan kesehatan langsung di tiap ruangan. Selain fasilitas ruang kesehatan dan ambulans, tim medis juga telah dibekali dengan prosedur tanggap darurat yang terintegrasi dengan sistem kepanitiaan.

Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag., selaku Ketua Panitia Nasional PMB PTKIN 2025, mengapresiasi kerja tim medis dan seluruh panitia atas kesigapan dalam merespons kondisi darurat tersebut. “Kami tidak hanya fokus pada kelancaran ujian, tetapi juga memastikan peserta merasa aman, sehat, dan dilindungi selama mengikuti seleksi. Kemanusiaan adalah prinsip utama dalam seluruh proses ini,” ujarnya.

Insiden ini menjadi pengingat bahwa penyelenggaraan ujian berskala nasional seperti UM-PTKIN bukan hanya soal teknis dan nilai, tetapi juga tanggung jawab moral untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan seluruh peserta. Pelayanan medis yang sigap dan terkoordinasi dengan baik di UIN Mataram menjadi cerminan dari semangat kolaboratif antara profesionalisme, empati, dan komitmen terhadap pendidikan yang inklusif. Adita@Humas