Mataram: Di tengah ribuan peserta yang mengikuti hari kelima Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) 2025 di UIN Mataram, hadir sosok yang mencuri perhatian karena semangat dan tekadnya yang luar biasa. Ia adalah Tirta Alvino Firdaus, seorang penyandang disabilitas tuna grahita ringan, yang mengikuti ujian berbasis Sistem Seleksi Elektronik (SSE) di tengah keterbatasan yang dimilikinya. Minggu, 15/06/2025

Tirta, alumni SMAN 7 Mataram, mengikuti ujian pada sesi ke-15 di Gedung TIPD lantai tiga. Tidak seperti peserta lain, Tirta datang membawa semangat yang tak kalah besar meski langkahnya mungkin lebih perlahan. Ia memilih program studi yang menantang dan memiliki prospek luas, yaitu Ekonomi Islam, Pariwisata Syariah, dan Manajemen Dakwah. Bagi Tirta, mengikuti seleksi ini adalah wujud dari keyakinan bahwa pendidikan adalah jembatan menuju masa depan yang lebih baik.
“Saya ingin kuliah di UIN Mataram karena banyak jurusannya bagus dan sesuai minat saya,” ungkap Tirta, dengan senyum yang menggambarkan rasa percaya diri.

Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag., yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru PTKIN 2025, memberikan apresiasi khusus kepada peserta disabilitas yang mengikuti ujian, termasuk Tirta. “Tirta adalah simbol dari harapan dan keberanian. Di tengah keterbatasan, ia memilih untuk tetap melangkah. Langkah kecil seperti ini punya makna besar bagi kita semua,” ujarnya.
Prof. Masnun menambahkan bahwa UIN Mataram terus berkomitmen membangun sistem penerimaan mahasiswa baru yang inklusif, ramah disabilitas, dan menjunjung tinggi nilai keadilan sosial dalam akses pendidikan.

Senada dengan itu, Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Suyitno, M.Ag., menegaskan pentingnya menjadikan seleksi nasional ini sebagai ruang yang ramah bagi semua kalangan. “Kami ingin menjadikan UM-PTKIN sebagai wadah untuk mewujudkan kesetaraan. Tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tidak punya kesempatan yang sama dalam menempuh pendidikan,” ucapnya.
Tirta mungkin datang dengan langkah kecil. Tapi hari ini, langkah itu menggema lebih luas menjadi pesan kuat tentang harapan, ketekunan, dan hak setiap insan untuk bermimpi. Di tengah ribuan peserta yang bersaing dalam sistem digital yang ketat, kisah Tirta menegaskan satu hal: masa depan bukan milik mereka yang sempurna, tapi milik mereka yang berani mencoba. Adita@Humas


