Mataram: Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) Tahun 2025 dengan Sistem Seleksi Elektronik (SSE) resmi dimulai secara serempak di seluruh Indonesia. Universitas Islam Negeri Mataram menjadi salah satu lokasi utama pelaksanaan ujian, dengan jumlah peserta mencapai 4.172 orang. Sabtu, 14/06/2025

Pelaksanaan UM-PTKIN di UIN Mataram dijadwalkan dalam 19 sesi, tersebar selama beberapa hari, dengan 3 sesi ujian per hari. Setiap sesi berdurasi 3 jam, meliputi 120 menit untuk pengerjaan soal, 10 menit pemutaran video tutorial penggunaan aplikasi SSE, dan 10 menit video sambutan Menteri Agama Republik Indonesia. Sisanya digunakan untuk proses registrasi dan persiapan teknis, dengan video diputar sebelum ujian dimulai.

Setiap sesi diikuti oleh 220 peserta, tersebar di 11 ruangan, masing-masing berisi 20 peserta. Skema ini dirancang untuk menjamin kenyamanan, keteraturan, dan efisiensi dalam pelaksanaan ujian berbasis komputer.

Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag., yang juga sebagai Ketua Panitia Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru PTKIN Tahun 2025, menyatakan bahwa UIN Mataram telah siap sepenuhnya menyelenggarakan ujian secara profesional. “Kami telah menyiapkan infrastruktur dan SDM secara matang. Ujian ini bukan hanya soal seleksi, tapi juga soal kepercayaan publik terhadap sistem pendidikan tinggi keagamaan kita,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Suyitno, M.Ag., menekankan bahwa UM-PTKIN berbasis SSE merupakan bagian dari transformasi digital pendidikan Islam. “Kita ingin menciptakan sistem seleksi yang akuntabel, transparan, dan efisien. Ini bukti keseriusan Kementerian Agama dalam mendigitalisasi proses masuk ke PTKIN,” ujarnya dalam keterangan resminya.

Secara nasional, UM-PTKIN 2025 diikuti oleh puluhan ribu peserta dan diselenggarakan serentak oleh 59 PTKIN dan 1 PTN dengan prodi keagamaan di seluruh Indonesia. Seleksi ini menjadi pintu masuk utama ke kampus-kampus Islam negeri yang terus berbenah dan berinovasi.

Antusiasme peserta terlihat tinggi sejak hari pertama. Salah satu peserta asal Bima mengaku sudah mempersiapkan diri sejak lama untuk bisa lulus dan melanjutkan studi di salah satu PTKIN favorit. “Semoga usaha saya membuahkan hasil. Saya ingin belajar ilmu keislaman lebih dalam,” ujarnya.

Pelaksanaan UM-PTKIN tahun ini tidak hanya menjadi momentum penting bagi para calon mahasiswa, tapi juga mencerminkan komitmen kuat lembaga pendidikan keagamaan Islam dalam menyongsong era baru pendidikan tinggi yang modern, terbuka, dan inklusif. Adita@Humas