Mataram : Di tengah haru biru keberangkatan jamaah calon haji Indonesia, sebuah pesan penting menggema dari berbagai kalangan: “Haji bukan hanya perjalanan fisik, tetapi ziarah jiwa.”Perjalanan menuju Baitullah adalah undangan suci dari Allah SWT, dan setiap tamu-Nya wajib menunjukkan adab yang tinggi, salah satunya melalui sikap taat aturan dan disiplin selama berada di Tanah Haram. Minggu, 13/05/2025

Beberapa waktu lalu, Pemerintah Arab Saudi menegaskan larangan masuknya warga asing dengan visa non-haji selama musim ibadah haji. Penegasan ini telah berulang kali disampaikan oleh Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama RI, sebagai bentuk perlindungan terhadap ketertiban dan keamanan ibadah haji.
Dalam konteks ini, kaidah ushul fikih memberikan pelajaran penting:
“Al-bilād bil-bilād” – Hukum wilayah berlaku di wilayah tersebut. Artinya, setiap orang yang memasuki suatu daerah atau negara, harus patuh terhadap hukum dan aturan yang berlaku di wilayah itu—meskipun berbeda latar belakang budaya atau mazhab.
Rektor Universitas Islam Negeri Mataram, Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag., memberikan pandangan yang menyejukkan:
“Kita bukan hanya tamu Allah, tetapi juga tamu negara. Maka sudah sepatutnya kita membawa akhlak terbaik kita. Haji yang mabrur lahir dari hati yang ikhlas, sikap yang sopan, serta ketaatan pada aturan tuan rumah,” ujarnya dengan penuh hikmah.
Beliau menambahkan, bahwa disiplin adalah bentuk ibadah yang sering kali luput dari perhatian. Dalam konteks haji, disiplin bukan hanya tentang waktu atau jadwal, tapi juga tentang mematuhi regulasi, menjaga etika, dan saling menghargai sesama jamaah dari berbagai penjuru dunia.

“Jamaah harus sadar bahwa mereka bukan hanya mewakili diri sendiri, tapi juga membawa nama bangsa dan agama. Maka tampilkan wajah Islam yang damai, tertib, dan penuh kasih sayang,” lanjut Prof. Masnun.
Kementerian Agama RI juga terus menghimbau seluruh calon jamaah haji untuk tidak terpengaruh oleh tawaran berangkat dengan visa non-haji, karena hal itu bukan hanya melanggar hukum, tapi juga merusak nilai ibadah yang suci ini.
Akhirnya, setiap jejak di Tanah Haram akan menjadi saksi. Makatanamkan dalam hati bahwa kunci haji mabrur tidak hanya terletak pada ritual, tapi juga dalam hormat terhadap aturan dan kedisiplinan yang lahir dari iman. Adita@Humas


