Mataram: Universitas Islam Negeri Mataram kembali mencatat sejarah akademik dengan mengukuhkan tiga guru besar sekaligus, masing-masing sebagai guru besar ke-55, 56, dan 57. Acara megah ini digelar di Auditorium Kampus II UIN Mataram dan dihadiri oleh berbagai tokoh penting dari NTB, termasuk para pejabat daerah dan akademisi dari berbagai institusi. Rabu, 23/04/2025

Tiga profesor yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. H. M. Zaidi, M.Ag. (Kepakaran Manajemen Wakaf), Prof. Dr. Baiq El Badriati, M.E.I. (Kepakaran Ekonomi Islam), dan Prof. Dr. Muhammad Harfin Zuhdi, M.A. (Kepakaran Masail Fiqhiyyah). Ketiganya menyampaikan orasi ilmiah yang mengangkat isu-isu strategis dan kontekstual yang menyentuh langsung kehidupan umat dan masa depan bangsa.

Dalam pidatonya, Prof. Dr. H. M. Zaidi, M.Ag., menyoroti potensi wakaf uang sebagai pilar ekonomi umat yang inklusif dan progresif. Ia mengajak publik untuk mengubah persepsi tradisional tentang wakaf, dan mulai melihat wakaf uang sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat melalui gerakan kecil namun masif. “Wakaf uang seratus ribu rupiah bisa menjadi gerakan besar jika dikelola secara digital dan profesional,” tegasnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Baiq El Badriati, M.E.I., membawakan orasi penuh nuansa budaya dan spiritual dengan membedah etos kerja perempuan penenun di Desa Sukarara. Ia menegaskan bahwa perempuan memiliki hak dan potensi yang sama dalam dunia kerja, dan dalam konteks ekonomi Islam, kontribusi mereka merupakan wujud aktualisasi diri yang berlandaskan nilai-nilai tauhid dan kemaslahatan. “Penenun songket bukan hanya pelestari budaya, tapi juga pejuang ekonomi keluarga dan bangsa,” ujarnya penuh semangat.

Prof. Dr. Muhammad Harfin Zuhdi, M.A., dalam orasi penutupnya mengupas pentingnya formulasi Mashlahah Maqashidiyyah sebagai pendekatan fiqh yang responsif terhadap perubahan zaman. Ia menekankan bahwa hukum Islam harus terus relevan dan adaptif terhadap tantangan sosial, politik, dan lingkungan hidup. “Islam hadir untuk membawa maslahat, dan hari ini maslahat itu harus menjawab persoalan global, mulai dari keadilan sosial hingga krisis iklim,” paparnya.

Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag., dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga atas pencapaian tiga profesor baru yang dianggapnya sebagai “sedekah ilmiah” untuk UIN Mataram dan peradaban. Ia menekankan bahwa orasi yang disampaikan bukan hanya bermakna secara akademik, tetapi juga berdampak secara sosial.

“Seorang profesor sejatinya adalah uswatun hasanah—teladan dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Mereka adalah imam dalam komunitas keilmuan, dan kehadiran mereka harus memberi arah dan inspirasi,” ungkap Rektor dengan penuh apresiasi.

Rektor juga menegaskan bahwa gelar profesor bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari pengabdian yang lebih besar. “Profesor bukan hanya peneliti, tapi juga pencari, penemu, dan pemberi fatwa terbaik untuk umat. Mereka harus tetap rendah hati, terus belajar, dan memberi dampak.”

Menutup sambutannya, Rektor mengajak seluruh sivitas akademika untuk mendukung gerakan wakaf uang nasional dan penanaman satu juta pohon Matoa, sebagai bagian dari komitmen UIN Mataram terhadap keberlanjutan dan keberkahan. “Inilah bentuk nyata dari Islam yang berdampak—agama yang menghadirkan maslahat, menyejahterakan umat, dan merawat bumi,” tandasnya.

Dengan pengukuhan ini, UIN Mataram kini memiliki 57 guru besar, dan dalam waktu dekat akan kembali menambah jumlah tersebut. Capaian ini menegaskan posisi UIN Mataram sebagai pusat keunggulan akademik dan episentrum pengembangan ilmu pengetahuan berbasis nilai-nilai keislaman untuk Indonesia dan dunia. Adita@Humas