Mataram: Catatan spesial mudik oleh Prof. Dr. H.M. Zaidi Abdad Guru Besar UIN Mataram . Mudik Lebaran adalah sebuah tradisi tahunan yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Bukan sekadar perjalanan fisik dari satu tempat ke tempat lain, mudik lebih dari itu—merupakan kesempatan emas untuk mempererat hubungan sosial, memperkuat silaturrahim, serta merayakan kebahagiaan keluarga. Momen ini memberikan ruang bagi banyak orang untuk berkumpul dengan keluarga besar, melepaskan kerinduan, serta saling berbagi kebahagiaan di tengah suasana penuh berkah. Minggu, 30/03/2025

Dalam ajaran Islam, silaturrahim memiliki kedudukan yang sangat penting. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, “Dan berikanlah kepada keluarga dan kerabatmu haknya, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan…” (QS. Al-Isra: 26). Silaturrahim bukan hanya sekadar kewajiban sosial, tetapi juga jalan menuju kebahagiaan dan keberkahan hidup. Berkunjung ke rumah saudara, berbagi kebahagiaan, dan mempererat hubungan dengan keluarga menjadi sarana untuk memperpanjang umur dan mendatangkan rezeki yang melimpah. Hadis Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan, “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahim” (HR. Bukhari dan Muslim).
Para antropolog juga memandang mudik sebagai fenomena sosial yang mencerminkan betapa pentingnya hubungan keluarga dalam kehidupan manusia. Dalam kajian antropologi, keluarga adalah unit sosial yang vital dalam membentuk identitas dan nilai-nilai budaya. Mudik, sebagai ritual tahunan, menjadi cara untuk menjaga hubungan antar anggota keluarga sekaligus melestarikan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.
Clifford Geertz, seorang antropolog ternama, mengungkapkan dalam karya “The Interpretation of Cultures” bahwa masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa, memiliki kedekatan emosional yang sangat kuat dengan keluarga. Mudik Lebaran bukan sekadar pulang kampung, tetapi juga menjadi ajang untuk memperbarui hubungan sosial serta menguatkan identitas budaya yang berakar pada tradisi silaturrahim. Geertz menjelaskan bahwa ritual semacam ini memiliki fungsi penting dalam memperkuat solidaritas sosial, seperti yang tampak pada praktik mudik yang melibatkan banyak orang yang rela menempuh perjalanan jauh untuk bertemu keluarga.

Cerita sederhana tentang seorang ibu yang menunggu anak-anaknya mudik setiap tahun menggambarkan betapa mendalamnya makna tradisi ini. Setiap Lebaran, sang ibu akan memasak hidangan kesukaan anak-anaknya, meskipun mereka telah tinggal jauh di kota besar. Setelah berbulan-bulan tidak bertemu, mereka berkumpul kembali di rumah ibu mereka, berbagi tawa, mengenang masa kecil yang penuh kebahagiaan. Momen itu lebih dari sekadar reuni keluarga—ia menjadi saat yang berharga untuk meneguhkan kembali ikatan emosional yang telah terjalin sejak lama.
Mudik Lebaran tidak hanya menjadi perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang menyentuh hati. Ia mengajarkan kita pentingnya menjaga hubungan dengan keluarga, mempererat silaturrahim, serta menghargai momen kebersamaan. Setiap perjalanan menuju kampung halaman adalah ladang pahala, bukan hanya untuk dunia, tetapi juga untuk akhirat. Selain itu, mudik juga memberikan kesempatan bagi individu untuk merefleksikan perjalanan hidup mereka, kembali ke kampung halaman, dan merasakan kedamaian batin serta rasa syukur yang mendalam atas segala nikmat yang telah diberikan Allah, termasuk nikmat keluarga yang selalu memberikan cinta dan dukungan.
Mudik Lebaran juga mengingatkan kita untuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain, khususnya mereka yang mungkin tidak memiliki kesempatan untuk merayakan Lebaran dengan cara yang sama—seperti orang miskin, yatim piatu, atau mereka yang jauh dari keluarga. Dalam konteks ini, silaturrahim tidak hanya berlaku kepada keluarga, tetapi juga kepada sesama umat manusia. Membagikan kebahagiaan dan kebaikan kepada orang lain adalah penerapan ajaran agama yang menekankan kepedulian sosial dan akhirnya memperkuat tali persaudaraan di tengah masyarakat.

Antropolog Mary Douglas juga menekankan bahwa ritual seperti mudik memiliki peran penting dalam menjaga harmoni dalam masyarakat. Mudik menjadi sarana untuk memelihara struktur sosial yang sehat, di mana orang-orang saling mendukung, menghargai, dan mempererat hubungan antargenerasi. Aktivitas mudik melibatkan berbagai usia—dari anak-anak hingga orang tua—yang masing-masing memiliki peran dan maknanya sendiri dalam tradisi ini. Hal ini menjadikan mudik sangat kaya akan nilai-nilai sosial yang mendalam dan abadi.
Mudik Lebaran juga mencerminkan kekuatan budaya Indonesia dalam merayakan kebersamaan. Keluarga dalam budaya Indonesia bukan hanya orang-orang serumah, tetapi juga mencakup kerabat, tetangga, dan masyarakat sekitar. Di banyak daerah, tradisi mudik ini telah menjadi bagian dari identitas nasional yang mencerminkan rasa persatuan dan gotong royong yang tinggi. Semangat ini tercermin dalam berbagai kegiatan saat mudik, seperti saling memberi dan menerima, yang mengajarkan kita untuk menjaga hubungan baik dengan sesama.

Dengan demikian, mudik Lebaran lebih dari sekadar tradisi tahunan. Ia adalah momen penting dalam kehidupan kita untuk menyegarkan kembali hubungan yang telah lama terjalin, memperbaiki yang sudah renggang, dan menguatkan kembali ikatan yang semakin kokoh. Sebagaimana diungkapkan oleh para antropolog, momen ini memperlihatkan betapa mendalamnya nilai-nilai keluarga, sosial, dan budaya dalam membentuk identitas individu dan masyarakat. Mudik adalah kesempatan untuk kembali, berbagi kebahagiaan, dan merayakan kebersamaan dengan orang-orang yang kita cintai. M. Zaidi Abdad-Adita@Humas


